Jakarta, FORTUNE - Sennheiser Group membukukan pendapatan sebesar €463,1 juta pada tahun fiskal 2025 di tengah tekanan ekonomi global, melemahnya permintaan, dan persaingan industri audio yang semakin ketat. Meski pendapatan turun dibandingkan tahun sebelumnya, perusahaan keluarga asal Jerman itu tetap mempertahankan investasi jangka panjang pada inovasi, penelitian, dan pengembangan sebagai strategi memperkuat daya saing.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan Sennheiser pada 2025 turun 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) tercatat sebesar €19,4 juta.
CEO Sennheiser Group Andreas Sennheiser, mengatakan tahun 2025 kembali menjadi tahun yang penuh tantangan, baik dari perspektif ekonomi maupun geopolitik. "Sejak awal, kami memahami bahwa dinamika yang terjadi di pasar kami bukanlah fenomena sementara," ujanya dalam keterangan pers, Senin (13/7). Menurut Andreas, perusahaan memilih tetap menjalankan berbagai inisiatif strategis dan investasi jangka panjang di tengah kondisi pasar yang belum stabil.
Chairman of the Board of Directors Sennheiser Group, Daniel Sennheiser, mengatakan kemampuan perusahaan untuk tetap adaptif menjadi kunci dalam menghadapi tekanan pasar. Dengan demikian, perusahaan tetap responsif, terus mendorong berbagai proyek strategis utama, serta menjaga kedekatan dengan pelanggan. "Kami dapat mewujudkannya berkat arah strategi yang jelas dan komitmen tim kami di seluruh dunia—yang sekaligus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan di masa depan," ujarnya.
Secara geografis, kawasan EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika) masih menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan nilai €215,8 juta. Namun, angka tersebut turun 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di Jerman, permintaan melemah akibat perlambatan ekonomi sehingga pendapatan turun 11,8 persen.
Di kawasan Amerika, pendapatan tercatat €142,6 juta atau turun 5,2 persen. Perusahaan menyebut kehati-hatian belanja di Amerika Serikat dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dan situasi politik. Meski demikian, wilayah tersebut tetap menyumbang sekitar 30 persen dari total pendapatan perusahaan. Sementara itu, kawasan Asia Pasifik (APAC) membukukan pendapatan €104,7 juta, turun 4,5 persen secara tahunan. Di tengah perlambatan tersebut, India menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan paling menjanjikan.
"Kinerja masing-masing wilayah pada tahun fiskal 2025 mencerminkan kondisi ekonomi global yang masih penuh volatilitas," ujar Daniel Sennheiser.
Menurutnya, kehadiran internasional memungkinkan perusahaan memahami dinamika setiap pasar secara lebih mendalam. Melalui tim lokal perusahaan dapat memahami kebutuhan pelanggan di setiap wilayah dan meresponsnya secara tepat sasaran.
Andreas menambahkan peluang pertumbuhan masih terbuka di sejumlah pasar. Sebagai gambaran, di wilayah AMERICAS pihaknya terus melihat peluang pertumbuhan yang signifikan meskipun dihadapkan pada tekanan persaingan yang tinggi, khususnya di segmen broadcast dan immersive audio. "Sementara itu, di APAC, India menunjukkan potensi besar yang muncul seiring dengan semakin luasnya adopsi teknologi di lingkungan universitas, institusi publik, dan sektor korporasi," katanya.
