Jakarta, FORTUNE - Adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong perusahaan mengelola volume data yang semakin besar. Kondisi ini menuntut kesiapan infrastruktur penyimpanan, perlindungan data, serta sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut.
Indonesia Country Manager di Synology, Clara Hsu, mengatakan perusahaan di Indonesia menghadapi tiga tantangan utama dalam mengadopsi AI, yakni kesiapan infrastruktur, biaya implementasi, dan keterbatasan tenaga ahli internal.
“Beban kerja AI berbeda, sedangkan banyak perusahaan di Indonesia masih menggunakan sistem yang sama. Mengganti sistem juga tidak murah, dan tenaga ahli internal untuk mengelolanya masih relatif terbatas,” ujar Clara dalam Synology Annual Press Event 2026 di Jakarta.
Besarnya kebutuhan pengelolaan data juga tecermin dalam survei Synology. Hampir 88 persen responden di Indonesia mengkhawatirkan inefisiensi penyimpanan akibat pertumbuhan data AI dan duplikasi data. Sementara itu, hanya sekitar dua dari 10 perusahaan yang sangat yakin dapat memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware sekaligus menjaga keamanan data cadangan.
Clara menjelaskan, solusi Synology digunakan oleh berbagai sektor. Adapun kebutuhannya masing-masing berbeda, mulai dari penyimpanan data jangka panjang untuk memenuhi ketentuan di sektor keuangan, pengelolaan video beresolusi tinggi di industri media, hingga dukungan sistem untuk digitalisasi layanan kesehatan. Di sektor manufaktur, penyimpanan data juga dibutuhkan untuk mengelola informasi yang tersebar di berbagai pabrik.