Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Didukung Industri Makanan, IKI Oktober 2026 Naik ke 53,77
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S.A Cahyanto (kanan) dan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar (Mintemgar), Merrijantij Punguan Pintaria (kiri) dalam Rilis IKI Oktober 2026 di Jakarta, Kamis (29/10). (Dok. Kemenperin)
  • IKI Oktober 2026 naik 1,84 poin menjadi 53,77, menandakan manufaktur nasional tetap ekspansif; penguatan didorong pesanan 56,08 dan produksi 55,38.
  • Industri makanan mencatat IKI tertinggi sepanjang 2026, didukung kenaikan pesanan domestik dan ekspor menjelang hari besar keagamaan, meski logistik menghambat distribusi serta persediaan.
  • Optimisme enam bulan ke depan dijaga 67,4 persen responden, tetapi empat subsektor masih kontraksi akibat pesanan ekspor melemah, gangguan bahan baku, biaya produksi, dan ketidakpastian global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 menguat ke level 53,77, naik 1,84 poin ketimbang bulan sebelumnya sebesar 51,93.

Peningkatan ini didukung oleh kinerja industri makanan yang mencatatkan indeks tertinggi sepanjang tahun ini, seiring meningkatnya pesanan dalam mengantisipasi periode hari besar keagamaan hingga akhir tahun.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Eko S.A. Cahyanto, mengatakan capaian IKI Oktober 2026 menunjukkan industri manufaktur nasional masih dalam fase ekspansi. Indeks tersebut juga lebih tinggi 0,27 poin dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 53,50.

“Apabila kita perhatikan, IKI dari bulan ke bulan menunjukkan sektor industri terus ekspansi dan kuat. Dari 23 subsektor yang menjadi objek penilaian IKI, dapat kami sampaikan bahwa sebagian besar tumbuh sangat baik,” kata Eko dalam Rilis IKI Oktober 2026 di Jakarta, Kamis (29/10).

Penguatan IKI terutama ditopang oleh kenaikan pesanan dan produksi. Indeks variabel pesanan mencapai 56,08, meningkat 2,68 poin dibandingkan dengan September 2026. Sementara itu, indeks produksi naik 1,60 poin menjadi 55,38.

Indeks persediaan meningkat tipis 0,15 poin menjadi 45,60. Meski membaik, variabel ini masih dalam fase kontraksi selama lima bulan berturut-turut.

Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas permintaan dan produksi industri terus menguat, meskipun pengelolaan persediaan masih menghadapi tantangan.

Dari sisi prospek usaha, optimisme pelaku industri untuk enam bulan ke depan juga tetap terjaga. Sebanyak 67,4 persen responden menyatakan optimistis, sedangkan tingkat pesimisme turun dari 5,8 persen menjadi 5,5 persen.

Berdasarkan orientasi pasar, IKI industri berorientasi ekspor mencapai 53,93, lebih tinggi dibandingkan dengan industri berorientasi domestik yang mencapai 53,55.

Perbaikan juga terlihat dari persepsi pelaku usaha terhadap kegiatan bisnis mereka. Sebanyak 80,4 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik atau stabil, meningkat dari 77,9 persen pada bulan sebelumnya.

Sebaliknya, proporsi responden yang melaporkan perlambatan kegiatan usaha turun dari 22,2 persen menjadi 19,5 persen.

Eko menilai momentum menjelang sejumlah hari besar keagamaan menjadi peluang bagi industri meningkatkan utilisasi kapasitas produksi. Pelaku usaha diharapkan dapat memanfaatkan peningkatan permintaan tersebut guna menjaga momentum ekspansi hingga akhir tahun.

“Pelaku usaha melihat situasi ini merupakan suatu peluang yang bisa meningkatkan utilisasi mereka. Kami berharap sama seperti yang diharapkan oleh pelaku usaha dan tergambar di respon IKI, bahwa keyakinan terhadap kondisi ke depan ini semakin baik,” katanya.

Industri makanan catat indeks tertinggi

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan industri makanan membukukan IKI tertinggi sepanjang 2026 pada Oktober. Penguatan terutama didorong oleh peningkatan pesanan, termasuk permintaan dari pasar ekspor.

Menurut Merrijantij, pelaku industri telah menyiapkan strategi mengantisipasi periode panjang hari besar keagamaan yang berpotensi meningkatkan kebutuhan produk makanan.

“Hal ini melanjutkan kinerja positif dari bulan sebelumnya. Untuk komponen pesanan baru, permintaan didukung oleh strategi yang disiapkan oleh pelaku industri dalam menyambut panjangnya periode hari besar keagamaan,” kata Merrijantij.

Meski demikian, industri makanan masih menghadapi kendala logistik yang mempengaruhi kelancaran pengiriman produk. Gangguan tersebut turut menekan variabel persediaan, sehingga peningkatan permintaan belum sepenuhnya diikuti oleh kelancaran distribusi.

Selain industri makanan, industri kertas dan barang dari kertas kembali memasuki fase ekspansi setelah mengalami kontraksi pada September 2026. Peningkatan pesanan pada subsektor ini berkaitan dengan kebutuhan kertas kemasan untuk persiapan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Namun, penguatan industri manufaktur belum merata di seluruh subsektor. Pada Oktober 2026, empat subsektor masih mengalami kontraksi, yakni industri kayu, barang dari kayu dan gabus; industri pencetakan dan reproduksi media rekaman; industri karet, barang dari karet dan plastik; serta industri furnitur.

Tekanan pada subsektor tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pelemahan pesanan ekspor, gangguan distribusi bahan baku, kenaikan biaya produksi, hingga ketidakpastian permintaan global.

Curated For You

Editorial Team

Related Article