Jakarta, FORTUNE – Dalam tekanan pasar modal domestik yang memicu koreksi harga saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 5,90 persen ke level Rp3.350 pada perdagangan Rabu (8/7), jajaran direksi perseroan justru mengambil langkah berani. Pucuk pimpinan perusahaan tambang tersebut secara kolektif menggelontorkan dana pribadi sekitar Rp17 miliar untuk memborong saham perusahaan.
Aksi tersebut mengirimkan sinyal optimisme yang kuat kepada publik mengenai solidnya fundamental dan prospek cerah kinerja bisnis perseroan pada masa depan.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi akumulasi ini dipimpin langsung oleh Direktur Utama AMMN, Arief Sidarto, yang memborong 1,6 juta lembar saham pada 30 Juni 2026. Transaksi tersebut dieksekusi pada harga Rp3.105 per saham dengan nilai total nilai Rp4,97 miliar.
Kemudian, Direktur AMMN, Anthony Mathias, turut menambah kepemilikannya dengan mengamankan 1,69 juta lembar saham pada periode 1–2 Juli 2026. Transaksi dilakukan pada kisaran harga Rp3.120 hingga Rp3.510 per saham, dengan total nilai berkisar Rp5,6 miliar.
Selanjutnya, Aditya Sasmito menginvestasikan dana Rp3 miliar untuk menebus 850.000 lembar saham pada 6 Juli 2026 dengan tingkat harga Rp3.530 per saham.
Teranyar, direktur lain, Lal Naveen Chandra, juga mengeksekusi pembelian 1.000.000 lembar saham pada tingkat harga Rp3.565 per saham dengan nilai transaksi Rp3,56 miliar. Melalui penambahan tersebut, Naveen kini mengempit total kepemilikan 53.161.300 lembar saham.
Seluruh transaksi telah dilaporkan secara transparan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI sesuai dengan Peraturan OJK Nomor 4 Tahun 2024, dengan tujuan yang secara tegas dinyatakan sebagai investasi pribadi.
Fenomena borong saham oleh manajemen inti ini dinilai sebagai pergerakan strategis bernilai tinggi. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menegaskan langkah korporasi ini harus dibaca sebagai sinyal kolektif yang mencerminkan keyakinan mendalam manajemen terhadap kondisi riil perusahaan, bukan sekadar keputusan individual belaka.
"Gerakan borong saham yang dilakukan jajaran direksi AMMAN ini bisa mengindikasikan bahwa manajemen melihat prospek masa depan perusahaan yang positif, dengan kinerja bisnis yang solid. Terlebih saat ini pasar sedang tertekan oleh sentimen makro dan capital outflow asing, yang tidak mencerminkan fundamental atau kondisi bisnis perusahaan yang sebenarnya,” ujar Nafan melalui keterangan tertulis yang dikutip di Jakarta, Rabu (8/7).
Aksi tersebut sejalan dengan laporan analisis mendalam (initiation report) yang dirilis oleh BRI Danareksa Sekuritas. Lembaga sekuritas ini menyematkan rekomendasi beli untuk saham AMMN dengan target harga cukup progresif, yakni Rp6.000 per saham.
Analis BRI Danareksa, Andhika Audrey Eko Nugroho, memaparkan AMMN tengah memasuki fase pertumbuhan kinerja yang signifikan pada 2026.
Padorong utama akselerasi kinerja tersebut adalah ramp-up produksi dari Fase 8 Tambang Batu Hijau, serta optimalisasi fasilitas hilirisasi yang mencakup smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR). Riset internal tersebut memproyeksikan pendapatan perseroan pada 2026 mampu menyentuh US$4 miilar, atau melesat 117 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
Seiring dengan pertumbuhan tersebut, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) diperkirakan melonjak 97 persen menjadi sekitar US$2 miliar. Target harga Rp6.000 per saham ini disusun menggunakan metode valuasi Sum of the Parts yang turut memperhitungkan potensi pengembangan jangka panjang dari Proyek Elang.
Jika ditinjau dari rekam jejak pasar, pergerakan harga saham emiten pertambangan ini memang sempat mengalami tekanan cukup berat. Sejas awal tahun, harga saham AMMN melorot 44,28 persen secara year-to-date (ytd) ke level Rp3.580 per saham hingga posisi Senin (6/7).
Kendati demikian, dalam kurun waktu satu bulan terakhir, saham perseroan memperlihatkan daya tahan yang tangguh dengan mencatatkan lompatan harga 8 persen.
Sebagai penutup analisisnya, Nafan menambahkan apresiasi nilai saham AMMN ke depan ditopang kuat oleh faktor eksternal berupa kenaikan harga emas dan tembaga di pasar internasional.
Kebutuhan global terhadap komoditas tembaga saat ini mengalami lonjakan masif seiring dengan pesatnya perkembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle) serta pembangunan pusat data (data center).
Mengingat AMMN memiliki spesialisasi komoditas tembaga dan emas dengan kadar bijih yang tinggi, tingkat leverage perseroan terhadap fluktuasi harga komoditas global menjadi sangat sensitif.
