Ditopang Harga Jual, Pendapatan RMK Energy Melonjak 176%

- RMK Energy membukukan pendapatan Rp1,6 triliun pada semester I 2026, melonjak 176,7 persen secara tahunan, ditopang kenaikan volume penjualan batu bara 302,3 persen menjadi 1,7 juta ton.
- Pendapatan jasa pengangkutan meningkat seiring volume hauling yang tumbuh 424,9 persen menjadi 1,4 juta ton dan volume muatan barge 3,2 juta ton; segmen jasa menyumbang margin lebih tinggi.
- Laba bersih RMKE naik 82,2 persen menjadi Rp163,1 miliar, sementara arus kas operasional tumbuh 62,8 persen menjadi Rp140,3 miliar dan rasio utang terhadap ekuitas 0,55 kali.
Jakarta, FORTUNE - PT RMK Energy Tbk (RMKE) membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar 176,7 persen menjadi Rp1,6 triliun pada paruh pertama 2026. Perusahaan penyedia jasa logistik batu bara tersebut mencatat kenaikan pendapatan, salah satunya ditunjang oleh lonjakan volume penjualan 302,3 persen atau mencapai 1,7 juta ton diikuti naiknya harga jual rata-rata sekitar 15,1 persen pada semester I 2026.
Sementara itu, RMKE juga mencatat kenaikan pendapatan dari segmen jasa pengangkutan batu bara seiring dengan kenaikan volume hauling sebesar 1,4 juta ton atau tumbuh 424,9 persen. Peningkatan volume ini turut mendukung volume muatan barge mencapai 3,2 juta ton.
Direktur Utama RMK Energy, Vincent Saputra, menjelaskan kedua segmen yang saling melengkapi tersebut mendorong kinerja perusahaan secara keseluruhan. Meski begitu, segmen jasa memberikan kontribusi margin yang lebih tinggi dibandingkan segmen penjualan batu bara, mencerminkan operating leverage yang melekat pada model bisnis logistik berbasis asset.
"Pertumbuhan volume jasa secara langsung mendorong peningkatan volume penjualan batu bara, karena volume jasa yang lebih baik memungkinkan perseroan untuk menjual batu bara dalam volume yang lebih besar,"uajr Vincent dalam keterangan resminya, Selasa (4/8).
Pertubuhan kinerja operasional RMKE turut mendongkrak laba bersih perusaahaan mencapai Rp163,1 miliar atau meningkat 82,2 persen dibandingkan semester I tahun sebelumnya. Dari sisi profitabilitas usaha, laba usaha yang berasal dari segmen penjualan batu bara sebesar 36,3 persen dan segmen jasa batu bara sebesar 63,7 persen.
Sementara itu, arus kas dari aktivitas operasional perseroan tercatat tumbuh 62,8 persen menjadi Rp140,3 miliar dengan rasio utang finansial terhadap ekuitas terjaga di level 0,55 kali.
"Kami melihat tren yang jauh lebih baik pada kuartal kedua tahun ini, dengan pertumbuhan di seluruh segmen usaha yang kami miliki. Kami juga melihat iklim usaha yang akan semakin kondusif di sektor pertambangan, seiring dengan kebijakan pemerintah yang jauh lebih jelas," pungkas Vincent.


















