Diversifikasi Bisnis, Astra Otoparts Luncurkan 6 Alat Kesehatan Digital

- PT Astra Komponen Indonesia meluncurkan enam alat kesehatan digital sebagai langkah diversifikasi bisnis dan upaya memperkuat industri alat kesehatan nasional agar lebih mandiri dari produk impor.
- Produk seperti GCU 4in1 dan 3in1 dikembangkan dengan teknologi AI serta kolaborasi lintas sektor untuk mendukung deteksi dini penyakit tidak menular dan layanan kesehatan berbasis data.
- Pemerintah menekankan pentingnya kemandirian alat kesehatan dalam negeri guna meningkatkan ketahanan sistem kesehatan, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Jakarta, FORTUNE - PT Astra Komponen Indonesia (ASKI), anak perusahaan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), meluncurkan enam alat kesehatan berbasis teknologi digital. Tak hanya sebagai diversifikasi bisnis perseroan di luar segmen komponen otomotif, langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Enam alat kesehatan yang diluncurkan mencakup ultrasonography 4D, syringe pump, infusion pump, electrocardiograph 12 channel, tensimeter sekaligus alat pengukur kadar gula, kolesterol, dan asam urat GCU 4in1, serta GCU 3in1 yang diintegrasikan dengan aplikasi digital dan predictive analytics berbasis Artificial Intelligence untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan terintegrasi.
Hamdhani Dzulkarnaen Salim, Presiden Direktur Astra Otoparts, mengatakan dengan alat kesehatan berbasis teknologi digital yang didukung kapabilitas research & development (R&D) dan fasilitas produksi di dalam negeri, ASKI tidak hanya memperluas portofolio produk dalam negeri, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan pemanfaatan alat kesehatan lokal di fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga mendorong penciptaan menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui penguatan kemampuan R&D, pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri, dan pengembangan alat kesehatan berbasis teknologi, perseroan menghadirkan produk yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu menjawab kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia.
“Kami percaya, semakin kuat industri alat kesehatan dalam negeri, semakin besar pula kemampuan kita dalam menghadirkan layanan kesehatan untuk masyarakat yang berkualitas, lebih merata, dan berkelanjutan, sehingga meningkatkan ketahanan sektor kesehatan nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/3).
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengatakan ada tiga hal utama pentingnya mendorong kemandirian alat kesehatan di Indonesia. Pertama, perlunya penyediaaan alat kesehatan yang berkualitas dengan harga terjangkau untuk masyarakat. Kedua, dengan dukungan alat kesehatan dalam negeri, pemerintah ingin memastikan ketahanan sistem kesehatan nasional.
“Ketiga, dengan kemandirian alat kesehatan dalam negeri, sektor kesehatan dapat menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Budi.
Selain peluncuran produk alat kesehatan, Menteri Kesehatan mengunjungi fasilitas produksi plastic injection dan alat kesehatan ASKI, R&D, laboratorium, dan showroom untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kesiapan industri dalam negeri dalam mengembangkan dan memproduksi alat kesehatan berbasis teknologi.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pemanfaatan alat kesehatan produksi dalam negeri di fasilitas pelayanan kesehatan menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, dari sekitar 12 persen pada 2019 menjadi sekitar 48 persen pada 2024. Meskipun demikian, jumlah alat kesehatan yang beredar di Indonesia masih didominasi oleh produk impor, dengan lebih dari 59.000 produk luar negeri dibandingkan sekitar 19.000 produk dalam negeri.
Kondisi ini menegaskan pentingnya percepatan penguatan industri alat kesehatan nasional, agar dapat meningkatkan penggunaan alat kesehatan dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Ekosistem Industri Alat Kesehatan
ASKI menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari ekosistem industri alat kesehatan nasional yang kuat dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor merupakan kunci dalam menciptakan ekosistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.
Oleh karenanya, kolaborasi antara pemerintah (Kemenkes dan Kemenperin), universitas, industri, dan distributor diharapkan dapat mempercepat terwujudnya kemandirian alat kesehatan nasional sekaligus meningkatkan akses layanan kesehatan yang lebih merata bagi masyarakat Indonesia.
Sinergi tersebut juga tercermin melalui kolaborasi yang telah terjalin bersama PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, dalam pengembangan solusi alat kesehatan berbasis teknologi digital. Kolaborasi ini antara lain diwujudkan melalui pengembangan perangkat GCU 4in1 dan 3in1 yang mendukung kegiatan screening serta deteksi dini penyakit tidak menular melalui pemanfaatan teknologi berbasis data.
GCU 4in1 merupakan perangkat multifungsi pertama di Indonesia yang mengintegrasikan pengukuran tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat dalam satu alat. Sementara itu, GCU 3in1 menghadirkan solusi praktis untuk pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat. Kedua perangkat ini dirancang untuk mendukung deteksi dini penyakit tidak menular serta mendorong layanan kesehatan yang terintegrasi dan berbasis data, sekaligus memudahkan pemantauan kesehatan secara komprehensif dan berkelanjutan.
ASKI juga terus mengarahkan inovasi produknya untuk mendukung penguatan layanan kesehatan yang lebih promotif dan preventif. Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya berkontribusi pada penguatan industri, tetapi juga pada peningkatan akses layanan kesehatan untuk masyarakat yang lebih luas dan merata.
Sejak melakukan diversifikasi ke sektor alat kesehatan pada 2020, ASKI terus memperluas pengembangan produknya dan hingga saat ini telah menghasilkan lebih dari 30 jenis alat kesehatan dengan kandungan tingkat komponen dalam negeri yang mencapai kisaran 40–59 persen serta bobot manfaat perusahaan sebesar 12,7 persen.
Seluruh proses pengembangan, mulai dari desain produk serta pengembangan sistem mekanik, elektronik, dan perangkat lunak, hingga pembuatan tooling, dilakukan secara mandiri di dalam negeri.
















