Jakarta, FORTUNE - PT Elnusa Tbk (ELSA) mengimplementasi sistem dual completion di Adera Field di Komplek Pertamina, Sumatra Selatan. Produksi minyak dan gas di sana pun berpotensi meningkat lampaui target.
Melalui penerapan teknologi tersebut, perseroan memperkirakan tambahan produksi sekitar 480 BOPD minyak dan 3,3 MMSCFD gas, dari target 186 BOPD dan 1,09 MMSCFD. Teknologi itu melengkapi berbagai inisiatif pengembangan, seperti development drilling, step out drilling, dan optimalisasi reservoir guna meningkatkan efisiensi pemanfaatan cadangan hidrokarbon.
"Kapabilitas Elnusa menjadi bagian dari upaya Pertamina dalam mengoptimalkan pengembangan lapangan melalui sinergi dengan mitra strategis. Kolaborasi ini mencerminkan bagaimana kompetensi nasional mampu memberikan nilai tambah bagi keberlanjutan operasi hulu migas Indonesia," kata Direktur Operasi Elnusa, Andri Haribowo dalam keterangan resmi, Rabu (22/7).
Melalui implementasi dual completion pada sumur BNG-D14 di Adera Field, dua reservoir dapat diproduksikan melalui satu sumur tanpa memerlukan pengeboran sumur baru pada setiap lapisan. Teknologi ini selanjutnya akan diimplementasikan pada sumur-sumur berikutnya GNK-PD80 dan BNG-B7.
Pendekatan itu meningkatkan efisiensi pengembangan lapangan, mengurangi kebutuhan intervensi sumur, serta mengoptimalkan pemanfaatan reservoir yang masih produktif.
Dalam penerapan teknologi untuk mengoptimalisasi lapangan migas yang masuk fase mature itu, Elnusa mendukung melalui kapabilitas Well Intervention & Completion, Engineering Services, serta eksekusi operasi lapangan yang mengedepankan standar HSSE.
"Kami percaya keberhasilan peningkatan produksi migas tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi yang solid antar entitas Pertamina Group. Dengan pengalaman dan kapabilitas yang dimiliki, Elnusa akan terus mendukung PHR dan seluruh entitas Pertamina Group melalui layanan yang andal, inovatif, serta berorientasi pada operational excellence guna mendukung target produksi migas nasional dan memperkuat ketahanan energi Indonesia," ujar Andri.
