Jakarta, FORTUNE - Gangguan pada aplikasi digital dapat menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan, mulai dari ribuan hingga jutaan dolar AS per jam, bergantung pada skala dan sektor industrinya.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan memperkuat ketahanan layanan digital melalui pemanfaatan teknologi observabilitas berbasis kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan data platform pengujian beban asal Prancis, Gatling, biaya akibat downtime aplikasi pada perusahaan skala kecil berkisar US$8.000 hingga US$50.000 per jam. Nilai kerugian tersebut meningkat menjadi US$260.000 per jam pada sektor manufaktur, US$1 juta per jam pada layanan kesehatan, dan US$5 juta per jam pada industri perbankan.
Seiring meningkatnya ketergantungan dunia usaha terhadap layanan digital, kemampuan mendeteksi gangguan sejak dini dinilai menjadi salah satu faktor penting menjaga keberlangsungan operasional sekaligus meminimalkan potensi kerugian.
Senior Vice President Multipolar Technology, Achmad Fakhrudin, mengatakan pendekatan observabilitas berbasis AI memungkinkan perusahaan mendeteksi anomali, mempercepat analisis akar penyebab masalah, serta mengambil tindakan sebelum gangguan berdampak pada pengoperasian bisnis, pengalaman pelanggan, maupun pendapatan.
"Tim IT dapat merespons insiden lebih cepat, menjaga ketersediaan layanan, dan mendukung pertumbuhan bisnis berbasis data," kata Achmad dalam keterangannya, Rabu (5/8).
Dalam penerapannya, Multipolar Technology menggabungkan platform Elastic Observability dengan Dell ObjectScale. Elastic Observability digunakan untuk mengintegrasikan data log, metrik, jejak aplikasi (traces), serta data infrastruktur dalam satu tampilan sehingga memudahkan pemantauan dan analisis performa sistem.
Dengan dukungan machine learning, platform tersebut juga mampu mengenali pola operasional, mendeteksi anomali, mengidentifikasi akar penyebab gangguan, hingga memberikan rekomendasi perbaikan.
Sementara itu, Dell ObjectScale berperan sebagai infrastruktur penyimpanan objek (object storage) yang dirancang menampung volume data observabilitas dalam jumlah besar secara aman dan dapat diperluas sesuai kebutuhan perusahaan.
Division Head Server Multipolar Technology, Jeffry Tjiung Sendjaja, mengatakan integrasi kedua solusi tersebut memungkinkan data observabilitas tersimpan lebih lama sehingga memudahkan perusahaan melakukan penelusuran ketika terjadi gangguan.
"Kombinasi ini memungkinkan perusahaan menyimpan histori data observabilitas lebih lama, menelusuri kembali insiden dengan lebih mudah, dan tetap menjaga efisiensi biaya infrastruktur," kata Jeffry.
Menurutnya, kemampuan seperti scale-out architecture, geo-replication, enkripsi data, erasure coding, dan multi-tenancy pada Dell ObjectScale membantu perusahaan mengelola data dalam skala besar dengan tingkat keamanan yang lebih baik.
Kebutuhan terhadap sistem penyimpanan data modern juga diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya penggunaan data tidak terstruktur (unstructured data) untuk analitik, observabilitas, dan AIOps.
Berdasarkan riset IDC pada 2025, sekitar 90 persen dari total datasphere global yang mencapai 175 zettabyte merupakan data tidak terstruktur sehingga membutuhkan kapasitas penyimpanan yang fleksibel dan mudah dikembangkan.
