Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

H&M akan Tutup Permanen 160 Gerai di 2026, Fokus Digital

H&M akan Tutup Permanen 160 Gerai di 2026, Fokus Digital
Ilustrasi H&M (unsplash.com/@shorstudio)
Intinya Sih
  • H&M akan menutup 160 gerai global pada 2026 sebagai bagian restrukturisasi.

  • Penjualan online kini menyumbang sekitar 30 persen dari total pendapatan.

  • Optimalisasi toko menekan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE — H&M akan tutup permanen 160 gerai di 2026 sebagai bagian dari strategi global untuk mengoptimalkan portofolio toko dan memperkuat kanal digital.

Keputusan ini muncul di tengah perubahan perilaku konsumen serta tekanan industri ritel fesyen yang semakin kompetitif.

Langkah tersebut menyusul penutupan 163 toko sebelumnya secara global, seiring pergeseran fokus perusahaan ke e-commerce dan lokasi yang dinilai lebih menguntungkan.

H&M menyatakan penyesuaian ini berdampak pada kinerja jangka pendek, terutama terhadap penjualan kuartal awal tahun.

Penutupan gerai dan strategi efisiensi

H&M menegaskan bahwa penutupan toko merupakan bagian dari optimalisasi operasional untuk meningkatkan efisiensi dan margin.

“Optimalisasi portofolio toko telah berdampak agak negatif pada penjualan kuartal I-2026 karena penutupan dan pembangunan kembali toko,” ujar perusahaan dalam laporan kinerja.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa pengurangan jumlah gerai memengaruhi penjualan dalam jangka pendek.

Namun, perusahaan juga menambahkan bahwa efek tersebut diperkirakan membaik sepanjang tahun.

“Untuk perkiraan menyeluruh sepanjang 2026, efek penjualan dari optimalisasi toko diperkirakan akan sedikit positif,” ujar H&M.

Optimalisasi ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas per meter persegi sekaligus menekan biaya operasional, termasuk biaya tenaga kerja dan kelebihan inventori.

Peran e-commerce semakin dominan

Transformasi bisnis H&M ditopang oleh pertumbuhan kanal digital. Saat ini, penjualan online menyumbang sekitar 30 persen dari total pendapatan perusahaan.

H&M menekankan perubahan perilaku pelanggan sebagai faktor utama di balik strategi ini.

“Pelanggan ingin terinspirasi dan memiliki produk yang tersedia sehingga mereka dapat berbelanja di mana, kapan, dan bagaimana pun mereka pilih, entah itu di toko, di situs web merek sendiri, di pasar digital, dan di media sosial,” kata H&M.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mengadopsi pendekatan omnichannel, dengan mengintegrasikan toko fisik dan platform digital dalam satu ekosistem penjualan.

Dampak pada kinerja dan jaringan toko

Penyesuaian jumlah toko turut memengaruhi performa keuangan H&M. Pada kuartal I-2026, perusahaan mencatat penurunan penjualan sekitar 1 persen secara tahunan dalam mata uang lokal, seiring berkurangnya jumlah gerai.

The Street mewartakan secara keseluruhan, H&M telah mengurangi jumlah toko globalnya menjadi sekitar 4.050 unit, turun sekitar 4 persen dibandingkan sebelumnya.

Jumlah karyawan juga menyusut hampir 2 persen menjadi 94.744 orang.

Sejak 2019, perusahaan telah menutup sekitar 1.000 toko di seluruh dunia. Pada 2025 saja, sekitar 200 gerai ditutup sebagai bagian dari restrukturisasi berkelanjutan.

Meski demikian, H&M tetap berencana membuka sekitar 80 toko baru pada 2026, terutama di pasar yang masih bertumbuh, sambil menutup gerai yang dinilai kurang optimal.

Tren industri dan perubahan perilaku konsumen

Langkah H&M mencerminkan tren yang lebih luas di industri ritel global. Pergeseran ke belanja online dan perubahan preferensi konsumen menjadi faktor utama.

“Pembeli lebih berorientasi pada nilai, lebih banyak berbelanja online dan kurang loyal terhadap toko fisik tradisional,” ujar Dominick Miserandino, CEO Retail Tech Media Nexus, dilansir The Sun.

Pernyataan ini menggambarkan tekanan yang dihadapi peritel konvensional, terutama dengan munculnya pemain digital yang menawarkan harga kompetitif dan pengalaman belanja yang lebih fleksibel.

Selain itu, persaingan dari platform e-commerce global dan perubahan pola konsumsi turut mendorong perusahaan untuk menyesuaikan strategi bisnisnya, termasuk mengurangi ketergantungan pada toko fisik.

Penyesuaian model bisnis ritel

H&M menegaskan bahwa toko fisik tetap menjadi bagian dari strategi, namun dengan peran yang lebih terintegrasi.

Toko tidak lagi menjadi kanal utama, melainkan bagian dari ekosistem yang mendukung pengalaman pelanggan secara menyeluruh.

Optimalisasi ini dilakukan melalui penutupan toko yang kurang produktif, renovasi lokasi strategis, serta investasi pada teknologi digital.

Dengan pendekatan ini, perusahaan menargetkan peningkatan efisiensi operasional dan daya saing di tengah perubahan lanskap ritel global.

FAQ seputar H&M akan tutup permanen 160 gerai

Mengapa H&M menutup 160 gerai pada 2026?

Untuk mengoptimalkan portofolio toko dan memperkuat fokus pada e-commerce.

Berapa kontribusi penjualan online H&M?

Sekitar 30 persen dari total pendapatan perusahaan berasal dari kanal digital.

Apakah penutupan toko berdampak pada penjualan?

Ya, penjualan jangka pendek terdampak, tetapi diperkirakan membaik sepanjang 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in Business

See More