Jakarta, FORTUNE - Pendapatan dan laba bersih PT United Tractors Tbk (UNTR) terkoreksi pada kuartal-I 2026. Katalis utamanya adalah pemberhentian operasional tambang emas Martabe milik entitas anaknya, PT Agincourt Resources.
Dari segi pendapatan bersih, penurunannya mencapai 17 persen (YoY), dari Rp34,3 triliun menjadi Rp28,6 triliun. Salah satu penyebab utama pelemahan itu adalah penurunan signifikan pada entitas PT Agincourt Resources karena tidak adanya penjualan emas. Selain itu, koreksi juga terjadi di segmen mesin konstruksi dan kontraktor penambangan akibat turunnya alokasi RKAB batu bara nasional pada 2026.
"Sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor pertambangan batu bara termal dan metalurgi, terutama disebabkan oleh harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi," kata Corporate Secretary UNTR, Ari Setiyawan dalam keterangannya, Kamis (30/4).
Berdasarkan segmen bisnis, berikut ini sumber pendapatan bersih UNTR pada kuartal-I 2026:
Rp11,9 triliun dari segmen kontraktor penambangan, menurun 6 persen (YoY).
Rp8 triliun dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi, naik 13 persen (YoY).
Rp7,5 triliun dari segmen mesin konstruksi, lebih rendah 31 persen (YoY).
Rp691,6 miliar dari segmen pertambangan emas dan mineral lainnya, terkoreksi 76 persen (YoY).
Sejalan dengan itu, laba bersih perseroan pun tertekan 80 persen (YoY) dari Rp3,18 triliun menjadi Rp643 miliar pada kuartal-I 2026. Jika tidak termasuk non-recurring charges, penurunannya hanya sebesar 44 persen (YoY) menjadi Rp1,8 triliun.
Selama periode tersebut, UNTR membukukan non-recurring charges senilai Rp1,2 triliun, yang terutama terdiri dari: pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate, dan provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.
Perseroan sendiri telah melakukan 2 aksi korporasi pada triwulan pertama tahun ini, yakni:
Mengakuisisi 100 persen kepemilikan saham PT Arafura Surya Alam, perusahaan tamabng emas di Sulawesi Utara, melalui PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara. Perseroan menyelesaikan transaksi tersebut pada 11 Februari 2026.
Penyelesaian program pembelian kembali saham tahap kedua senlai Rp2 triliun pada 31 Maret 2026.
