BUSINESS

PHK Massal Ternyata Bisa Jauh Lebih Merugikan bagi Perusahaan

PHK belum tentu menjawab kondisi keuangan sulit.

PHK Massal Ternyata Bisa Jauh Lebih Merugikan bagi PerusahaanIlustrasi pemimpin perusahaan. Shutterstock/JOKE_PHATRAPONG
02 February 2023
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE – Di antara kabar tren pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada berbagai industri saat ini, termasuk sektor teknologi, satu hal yang sering dibahas adalah dampaknya terhadap karyawan. Mesti diakui, pekerja adalah pihak yang secara umum dipandang merasakan langsung efek efisiensi bisnis.

Bagi mereka yang terkena kebijakan PHK massal, masalahnya tidak berhenti di situ. Sebab, mereka segera mencari pekerjaan demi meneruskan penghidupan demi memenuhi kebutuhan diri (dan keluarga).

Namun, PHK massal ternyata mengharuskan perusahaan untuk mengeluarkan ongkos lebih besar. Ada beberapa dampak negatif pemecatan besar-besaran terhadap organisasi: ancaman penurunan produktivitas, raibnya pengetahuan berharga, hingga penurunan harga saham.

Berdasar atas sejumlah perkiraan, lansir Fortune.com, Rabu (1/2), lebih dari 58.000 pekerja teknologi di Amerika Serikat telah terkena PHK sepanjang tahun ini. Dan, itu pun hanya dari satu industri. Sebab, PHK massal kemungkinan akan terus bergulir dan sebagian besar karena adanya perusahaan yang latah mengikutinya. Sisanya adalah perusahaan yang mengevaluasi kebijakan perekrutan besar-besaran pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurut survei asosiasi riset global, Conference Board, 98 persen CEO AS memperkirakan resesi akan terjadi pada masa mendatang. Sebagai respons atas perkiraan kemerosotan ekonomi, mereka berusaha keras untuk memotong anggaran perusahaan, salah satunya dengan memangkas karyawan.

Namun, apakah PHK menjadi jawaban yang tepat secara finansial? Sejumlah penelitian justru menunjukkan dampak efisiensi karyawan terhadap keuangan perusahaan bisa jadi semu. Justru, kebijakan pemangkasan karyawan menyimpan ongkos lebih besar di kemudian hari, dan hal tersebut acap kali tidak disadari oleh pemimpin bisnis.

1. PHK itu mahal

seseorang yang terkena PHK
ilustrasi PHK (unsplash.com/Christian Erfurt)

Sejak awal, biaya untuk melakukan PHK massal itu mahal. Kasus Microsoft bisa jadi misal. Perusahaan pembuat Windows itu mengumumkan akan menanggung US$1,2 miliar untuk biaya PHK, termasuk pembayaran pesangon, tunjangan, cuti yang masih harus dibayar, dan lain-lain.

Sementara, kondisi ekonomi bersifat musiman. Saat kelesuan ekonomi berakhir, perusahaan akan kembali merekrut pekerja. Namun, hal itu menjadi tidak mudah waktu dan biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Apalagi, karyawan baru perlu melewati proses orientasi dan pelatihan sebelum mereka menjadi benar-benar produktif.

Maka, dengan sejumlah pertimbangan barusan, PHK bisa jadi tidak menghemat anggaran sepeser pun. “Kehilangan pekerjaan dapat menghasilkan biaya yang lebih besar daripada keuntungan,” demikian penelitian dari perusahaan konsultan Bain & Company. Terlebih jika prediksi bahwa resesi akan bersifat ringan dan berumur pendek, seperti yang diperkirakan banyak ekonom di AS tahun ini.

Kasus Northwest Airlines dapat menjadi contoh berkenaan dengan hal tersebut. Menjelang era Depresi Besar, maskapai penerbangan itu memecat ratusan pilot. Namun, ketika perekonomian pulih, perusahaan transportasi itu tidak dapat mempekerjakan pilot dengan cukup cepat, dan kehilangan pendapatan jutaan dolar dari penerbangan yang dibatalkan.

2. Produktivitas melorot

karyawan di perusahaan
ilustrasi karyawan di perusahaan (freepik.com/Tirachardz)

Related Topics