Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

MDKA Bidik Produksi Emas hingga 115.000 Ounces di 2026

MDKA Bidik Produksi Emas hingga 115.000 Ounces di 2026
Ilustrasi; pertambangan milik - PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA). (Dok. Merdeka Copper)

Jakarta, FORTUNE - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menargetkan produksi sebesar 100.000 hingga 115.000 ounces emas pada 2026.

Target tersebut tidak termasuk produksi berkelanjutan dari Tambang Emas Tujuh Bukit, yang mencapai sekitar 80.000 sampai 90.000 ounces. Rencana produksi itu akan didukung struktur biaya yang kompetitif, kontribusi segmen emas terhadap produksi, dan arus kas grup ke depan yang disebut akan meningkat.

"Sepanjang 2025, kami terus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan skala operasi dan pengembangan proyek-proyek strategis. Dengan kemajuan signifikan di seluruh proyek kami dan kontribusi yang semakin kuat dari entitas anak, kami optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan," jelas Presiden Direktur MDKA, Albert Saputro dalam keterangannya, dikutip Selasa (31/3).

Salah satu kemajuan proyek adalah dimulainya fase produksi dan monetisasi Tambang Emas Pani. Sebagai konteks, pada 14 Februari 2026 perseroan memulai produksi emas perdana. Kemudian, dilakukan penjualan emas pertama ke PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) pada 16 Maret 2026.

Sebagai konteks, MDKA membukukan pendapatan sebesar US$1,89 miliar pada 2025, menurun 15,38 persen (YoY) dari US$2,24 miliar pada 2024.

Sejalan dengan itu, rugi bersih perseroan bertambah 11,3 persen (YoY) dari US$55,76 juta menjadi US$62,06 juta.

Target produk MBMA dan kinerja

Di segmen nikel, anak usaha perseroan, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), juga mengembangkan sejumlah proyek utama pada 2025. Hasilnya, tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) melaporkan produksi saprolit mencapai sekitar 7 juta wet metric tonnes (wmt) dan limonit sekitar 14,7 juta wmt.

Pada 2026, MBMA merencanakan peningkatan produksi bijih saprolit menjadi 8-10 juta wmt. Sementara itu, produksi bijih limonit ditargetkan naik ke rentang 20-25 juta wmt.

MBMA pun memperkirakan efisiensi biaya lebih lanjut seiring dengan peningkatan pasokan SCM hingga mencapai swasembada bijih saprolit 100 persen untuk ketiga pabrik Rotary Klin Electric Furnace (RKEF) perseroan pada tahun ini.

Terkait fasilitas hilirisasi, proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (anak usaha MBMA) dilaporkan berada di jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh. Sementara itu, pengembangan High Pressure Acid Leach (HPAL) PT Sulawesi Nickel Cobalt juga terus berjalan, sesuai dengan commisioning lini produksi pertama pada pertengahan 2026.

MBMA membukukan pendapatan senilai US$1,43 miliar pada 2025, menurun 22,28 persen (YoY) karena pelemahan harga nikel. Namun, laba bersihnya naik 29,74 persen (YoY) US$29,56 juta.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Business

See More

Antam Usul Pembebasan PPN 12% Untuk Transaksi Perak Murni

31 Mar 2026, 19:21 WIBBusiness