Jakarta, FORTUNE - Bosch mempercepat implementasi Strategi 2030 dengan mengandalkan inovasi, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi digital sebagai mesin pertumbuhan di tengah tekanan geopolitik global, perlambatan ekonomi, dan persaingan industri yang semakin ketat.
Perusahaan teknologi asal Jerman itu menegaskan akan mempertahankan investasi besar pada bidang strategis masa depan untuk memperkuat daya saing sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru di pasar global. Sepanjang 2025, Bosch mengalokasikan sekitar 12 miliar euro untuk penelitian dan pengembangan (R&D) serta belanja modal.
Chairman of the Board of Management Robert Bosch GmbH, Stefan Hartung, mengatakan Bosch tetap optimistis menghadapi tantangan global melalui penguatan inovasi di berbagai lini bisnis. Pihaknya berkomitmen untuk memelopori tren otomasi, digitalisasi, elektrifikasi, dan kecerdasan buatan, karena hal tersebut membuka jalan bagi pertumbuhan bisnis yang menguntungkan.
"Prasyarat penting untuk mencapainya adalah efisiensi biaya dari langkah-langkah struktural yang telah dimulai serta inovasi di seluruh lini bisnis,” ujarnya, dalam pernyataan tertulis kepada Fortune Indonesia (29/4). Ia menambahkan, sepanjang 2025, perusahaan mendaftarkan sekitar 6.300 paten dan kembali menjadi salah satu pemohon paten terbesar di Jerman.
Bosch menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 2–5 persen dan margin EBIT operasional sebesar 4–6 persen pada 2026, dengan arus kas bebas tetap positif. Stefan menyebut 2026 sebagai “tahun kemajuan” bagi perusahaan.
Pada tahun fiskal 2025, Bosch membukukan pendapatan penjualan sebesar 91 miliar euro, naik tipis dibandingkan 90,3 miliar euro pada 2024. Setelah disesuaikan dengan efek nilai tukar, pertumbuhan penjualan mencapai 4,1 persen. Namun margin EBIT operasional turun menjadi 2 persen dari sebelumnya 3,5 persen akibat penyesuaian struktural dan personel yang memunculkan provisi sebesar 2,7 miliar euro.
Di tengah tekanan harga global, khususnya di industri otomotif, Bosch menilai diferensiasi teknologi menjadi faktor utama memenangkan persaingan. Strategi 2030 perusahaan menargetkan Bosch masuk dalam tiga besar pemasok utama di pasar-pasar strategisnya. “Dalam kompetisi internasional, faktor penentu bukan hanya biaya, melainkan kemampuan diferensiasi,” kata Stefan. “Kami dapat menyesuaikan penawaran serta rantai pasokan kami dengan kondisi regional sekaligus memberikan kualitas standar global.”
Sebagai bagian dari penyesuaian daya saing, Bosch menyelesaikan pembicaraan dengan serikat pekerja terkait pengurangan jabatan di sejumlah lokasi bisnis Mobility di Jerman. “Negosiasi tersebut tidak mudah, tetapi kedua belah pihak menunjukkan rasa tanggung jawab yang nyata,” ujar Stefan.
Bosch juga memperkirakan ketidakpastian ekonomi global masih akan berlanjut pada 2026 akibat perang di Timur Tengah, tekanan inflasi, dan hambatan perdagangan internasional. Meski demikian, perusahaan mencatat pendapatan kuartal pertama 2026 tetap stabil dan tumbuh sekitar 5 persen setelah penyesuaian nilai tukar.
Chief Financial Officer Robert Bosch GmbH, Markus Forschner, mengatakan daya saing menjadi fondasi utama perusahaan untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang. “Fondasi bagi pertumbuhan yang menguntungkan adalah daya saing kami, itulah sebabnya kami bekerja keras untuk meningkatkannya lebih jauh,” katanya.
Untuk memperkuat fleksibilitas pendanaan, Bosch juga akan mulai menerbitkan laporan keuangan interim paruh pertama tahun fiskal agar lebih mudah mengakses pasar modal dan instrumen obligasi.
