Jakarta, FORTUNE - PT MRT Jakarta (Perseroda), melalui anak usahanya, PT Integrasi Transit Jakarta, tengah memperluas Stasiun Bundaran HI melalui proyek Extended Concourse. Investasinya mencapai sekitar Rp200 miliar.
Dana tersebut berasal dari dana kontribusi KLB (Koefisien Lantai Bangunan) beberapa pengembang di kawasan tersebut beserta pajaknya. Jika dikurangi pajak, proyek tersebut akan didukung dana kontribusi KLB sebesar Rp181 miliar.
"Dari Rp181 miliar itu, Rp150 miliar untuk konstruksi, kemudian sisanya untuk konsultan perencanaan dan konsultan perpajakan," kata Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, dikutip Kamis (20/8). "Nilainya cukup masif."
Lewat proyek itu, perusahaan bertujuan mengembangkan sirkulasi bawah tanah demi mempersiapkan peningkatan layanan MRT. Hal itu sejalan dengan proyeksi penambahan penumpang setelah operasional MRT Fase 2 pada 2029 dan Fase 3 pada 2032.
"Perluasan area Stasiun MRT Bundaran HI diperlukan dalam mengantisipasi meningkatnya traffic sampai dengan kurang lebih 6.000 penumpang per hari dengan beroperasinya Jalur Utara-Selatan Fase 2A pada 2029 serta Jalur Timur-Barat pada 2032," ujar Ferdi.
Dalam perencanaan proyek itu, akan ada penambahan pintu masuk atau muara pada sisi Timur dan Carat stasiun. Di sisi Timur atau Muara 1 berada tepat di depan Plaza Indonesia, sedangkan sisi Barat atau Muara 2 di depan Wisma Nusantara. Pembangunannya akan menggunakan metode open cut di sisi jalur pejalan kaki, dengan pertimbangan mengurangi keperluan rekayasa lalu lintas pada Jalan M.H. Thamrin.
Pada Agustus 2026, target rencana pengerjaan proyek adalah 24,8 persen dari seluruh pekerjaan. Sementara per akhir Juli 2026, realisasi pengerjaan proyek mencapai 21,46 persen, lebih maju dari target awal dalam perencanaan, yakni 21,07 persen.
"Di 2026 ini direncanakan 45 persen selesai semua, karena ini adalah proyek multi years, akan berlanjut untuk diselesaikan dengan target kami pada Mei 2027, agar bisa diresmikan pada Juni 2027," ujar Ferdi.
Selama masa pekerjaan tahap 1, yaitu pada April sampai dengan September 2026, turut dilakukan pengalihan lalu lintas, pekerjaan pondasi tiang bor pekerjaan tanah, pemancangan Steel Sheet Pile (SSP) atau dinding penahan tanah baja, juga pemasangan strut dan waller. Selama periode itu, terdapat beberapa catatan manajemen lalu lintas, yakni:
Penyempitan lebar jalur A menjadi 2,7 meter.
Pemanfaatan jalur Transjakarta menjadi mixline sepanjang halte Transjakarta.
Separator Moveable Concrete Barrier (MCB) dihilangkan.
Selanjutnya, pekerjaan tahap 2 akan berlangsung mulai Oktober 2026 sampai dengan Mei 2027.
