Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai Jawa Barat memiliki basis industri yang mendukung pengembangan manufaktur kendaraan listrik. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,73 persen dan menyumbang 12,88 persen terhadap produk domestik bruto nasional.
Dari sisi industri, Jawa Barat berkontribusi 27,32 persen terhadap industri pengolahan nasional. Nilai tambah industri pengolahan di provinsi tersebut mencapai Rp331,16 triliun.
Pemerintah mendorong investasi BYD tidak hanya berfokus pada produksi kendaraan, tetapi juga melibatkan industri pendukung di dalam negeri. Pengembangan pemasok komponen menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.
"Bagi kami pemerintah, keberhasilan di pasar domestik harus juga berjalan beriringan dengan penguatan basis manufaktur di dalam negeri," ujar Agus.
Dorongan tersebut sejalan dengan peta jalan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang menetapkan peningkatan minimum TKDN secara bertahap. Target TKDN ditetapkan sebesar 40 persen pada 2026, 60 persen pada 2027–2029, dan 80 persen mulai 2030.
Selain komponen kendaraan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mendorong BYD bekerja sama dengan perusahaan Indonesia dan mengembangkan industri baterai beserta fasilitas daur ulangnya.
Di mana pabrik BYD di Indonesia berada? | Pabrik BYD berada di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. |
Berapa kapasitas produksi pabrik BYD Subang? | Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun. |
Berapa tenaga kerja yang sudah diserap pabrik BYD? | Pabrik telah menyerap sekitar 5.000 pekerja lokal dan berpotensi mencapai lebih dari 20.000 orang. |
Apa model pertama yang diproduksi di pabrik Subang? | Model pertama yang diproduksi adalah BYD M6 DM dengan TKDN lebih dari 40 persen. |