Jakarta, FORTUNE - Perusahaan konglomerasi, PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan penurunan kinerja keuangan sepanjang 2025. Kinerja tersebut salah satunya disebabkan oleh tekanan harga batu bara pada bisnis pertambangan dan melemahnya penjualan otomotif.
Perusahaan mencatat, pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada 2025 sebesar Rp323,4 triliun, 2 persen lebih rendah dibandingkan 2024. Sejalan dengan itu, laba bersih, Grup Astra juga tercatat Rp32,8 triliun, turun 3 persen jika dibandingkan 2024.
“Pada 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup Astra tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” kata Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra International dalam keterangan tertulis, Jumat (27/2).
Perusahaan melaporkan perolehan laba bersih divisi otomotif dan mobilitas sebesar Rp11,4 triliun, relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya, ditopang oleh kinerja bisnis sepeda motor dan komponen, kendati volume penjualan mobil yang lebih menurun di tengah lemahnya pasar nasional.
Menurut data Gaikindo, penjualan mobil secara nasional menurun 7 persen menjadi 804.000 unit pada 2025, mencerminkan penurunan daya beli pada segmen entry-level. Namun demikian, di tengah persaingan yang semakin ketat, Astra masih mempertahankan pangsa pasarnya di kisaran 51 persen.
Sedangkan, laba bersih divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi tercatat menurun 24 persen menjadi Rp9,1 triliun. Penurunan kinerja bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara diimbangi sebagian oleh kinerja yang lebih tinggi dari bisnis pertambangan emas.
Di luar bisnis terkait pertambangan dan otomotif, kontribusi laba bersih sejumlah anak usaha mengalami peningkatan.
Misalnya, laba bersih divisi Jasa Keuangan Grup meningkat 9 persen menjadi Rp9,0 triliun, disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.
Begitupun, laba bersih divisi Agribisnis Grup meningkat 28 persen menjadi Rp1,2 triliun. Hal ini disebabkan meningkatnya harga minyak kelapa sawit (CPO) sebesar 11 persen menjadi Rp14.316/kg diikuti pertumbuhan volume penjualan CPO dan produk turunannya sebesar 13 persen menjadi 1,8 juta ton.
“Ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, kami memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik,” kata Djony.
Perusahaan akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.
Perseroan akan mengusulkan pembagian dividen final sebesar Rp292 per saham (2024: Rp308 per saham) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada April 2026.
Dividen final tersebut, apabila disetujui, akan melengkapi dividen interim sebesar Rp98 per saham (2024: Rp98 per saham) yang telah dibagikan pada Oktober 2025. Dengan demikian, total dividen yang diusulkan untuk tahun buku 2025 nilainya mencapai Rp390 per saham (2024: Rp406 per saham), dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48 persen.
