Gudang Blibli di Marunda, Jakarta Utara. (dok. Blibli)
Di tengah pertumbuhan pendapatan, Blibli juga mencatatkan perbaikan pada sejumlah indikator profitabilitas. Laba bruto konsolidasian meningkat 29 persen secara tahunan menjadi Rp3.462 miliar pada 9M26. Sementara itu, beban operasional turun 1 persen menjadi Rp4.306 miliar dari Rp4.369 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Efisiensi tersebut terlihat dari rasio beban operasional konsolidasian terhadap TPV yang turun dari 7,2 persen pada 9M25 menjadi 6,4 persen pada 9M26. Perbaikan terutama ditopang oleh lebih efisiennya beban iklan dan pemasaran serta beban umum dan administrasi terhadap TPV.
Sejalan dengan perbaikan struktur biaya, rugi usaha perseroan menyusut 53 persen secara tahunan menjadi Rp783 miliar, dibandingkan Rp1.677 miliar pada 9M25. EBITDA juga membaik, dengan rugi EBITDA turun 61 persen dari Rp1.460 miliar menjadi Rp566 miliar. Rasio EBITDA terhadap TPV turut meningkat dari minus 2,4 persen menjadi minus 0,8 persen, atau membaik 160 basis poin secara tahunan.
CFO Blibli, Ronald Winardi, mengatakan perbaikan bauran pendapatan dan pengelolaan biaya yang disiplin menjadi bagian dari kinerja perseroan pada periode tersebut.
“Kinerja keuangan kami pada sembilan bulan pertama tahun 2026 mencerminkan manfaat dari perbaikan bauran pendapatan serta pengelolaan biaya yang disiplin. Pendapatan kami tumbuh 46 persen y.o.y, didukung oleh pertumbuhan di seluruh segmen usaha. Peningkatan take rate menjadi 9,1 persen serta perbaikan kinerja EBITDA sebesar 160bps semakin menunjukkan kemajuan dalam kualitas pertumbuhan dan efisiensi operasional. Kami tetap fokus pada upaya memperluas marjin, meningkatkan leverage operasional, dan menjaga kedisiplinan dalam alokasi modal guna mempercepat langkah menuju profitabilitas, sekaligus membangun fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan profitabilitas yang berkelanjutan serta nilai jangka panjang bagi pemegang saham,” ujar Ronald.
Untuk 2026, perseroan menegaskan kembali target pertumbuhan pendapatan neto konsolidasian sebesar 15–20 persen. Fokus berikutnya mencakup peningkatan marjin dan efisiensi struktur biaya, penguatan kemitraan dengan prinsipal merek dan klien institusional, serta pengembangan ekosistem omnichannel terintegrasi.
Perseroan juga melihat momentum musiman, seperti Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dan liburan akhir tahun, sebagai peluang tambahan, khususnya pada kategori elektronik konsumen, perjalanan, dan gaya hidup. (WEB)