Pengusaha Yakin Industri Nutrisi Anak Tumbuh Meski Daya Beli Lesu

Jakarta, FORTUNE - Ketika banyak perusahaan barang konsumsi menghadapi tekanan dari melemahnya daya beli masyarakat dan kenaikan biaya produksi, PT Inovasi Pangan Nusantara (Barefood) melalui merek Bumboo justru memilih memperbarui portofolio produknya untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Langkah itu ditandai dengan peluncuran kembali Bumboo Fat Oil, produk pelengkap makanan pendamping ASI (MPASI) yang mengandalkan kombinasi lemak hewani dan nabati untuk mendukung kebutuhan nutrisi anak.
CEO Bumboo, Jeffrey Sutanto, mengatakan masih terdapat peluang besar untuk menghadirkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak. Dus, keputusan meluncurkan produk tersebut berangkat dari kebutuhan yang belum ia temukan di pasar. “Kita melihat banyak kesempatan karena di market itu sumber lemaknya masih banyak yang perlu dikembangkan kalau kita lihat dari produk-produk yang ada di pasaran,” ujarnya dalam acara Relaunch Bumboo Fat Oil di Jakarta, Rabu (3/6).
Pengembangan produk tersebut memakan waktu hampir satu tahun. Perusahaan harus melalui berbagai proses formulasi dan pengujian untuk memastikan produk tetap alami sekaligus disukai anak-anak. Bumboo Fat Oil hadir dalam tiga varian, yakni Bumboo Beef Fat Oil, Bumboo Chicken Fat Oil, dan Bumboo Extra Virgin Olive Oil (EVOO).
“Kita sekitar hampir satu tahun jadinya. Memang agak lama prosesnya karena formulasinya juga kita benar-benar buat dari nol dan gimana caranya buat formulasi yang benar-benar buat anak lahap. Jadi memang challenge-nya banyak sekali,” ujar Jeffrey.
Peluncuran ini melengkapi portofolio yang telah hadir sejak 2021. Saat ini, merek tersebut memiliki berbagai kategori produk untuk anak, mulai dari abon hingga beras berbumbu. Di antara seluruh lini produk, abon masih menjadi kontributor terbesar bagi perusahaan. Menurutnya kontribusi kategori tersebut terhadap pendapatan perusahaan masih tergolong signifikan.
Meski demikian, Barefood melihat peluang pertumbuhan ke depan tidak hanya berasal dari produk utama yang telah mapan. Perusahaan menilai edukasi konsumen mengenai nutrisi anak masih membuka pasar yang luas bagi kategori baru. Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi pasar nutrisi anak di Indonesia yang masih menghadapi tantangan pemahaman konsumen.
“Di Indonesia ini masih banyak perlu edukasi untuk produk-produk yang bernutrisi dan alami. Orang tua juga tentu menjadikan harga sebagai pertimbangan utama ketika memilih produk untuk anak, maka brand harus transparan terhadap konsumen,” ujarnya.
Tantangan bahan baku dan daya beli

Optimisme tersebut muncul di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah bagi pelaku industri barang konsumsi cepat saji (FMCG). Jeffrey mengakui pelemahan rupiah dan kenaikan harga berbagai bahan baku telah meningkatkan biaya produksi perusahaan. “Sangat berpengaruh, karena jujur untuk perusahaan FMCG terutama, kenaikan misalnya harga plastik, kenaikan harga dolar, kenaikan dolar juga otomatis bahan baku juga meningkat. Jadi semua cost kita naik semua,” ujarnya.
Ia juga mengakui, perusahaan juga menghadapi tantangan dari sisi penurunan daya beli sejak pertengahan tahun lalu. Meskipun demikian, perusahaan menilai kategori nutrisi anak masih relatif lebih tangguh dibandingkan sektor konsumsi lainnya. Menurut Jeffrey, orang tua cenderung tetap mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan anak meski kondisi ekonomi sedang tertekan.
Untuk menyiasati tantangan, perusahaan mencari cara untuk menjaga margin tanpa membebani konsumen dengan kenaikan harga. Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperluas sumber pasokan bahan baku.
“Kita banyak mencari sumber-sumber bahan baku yang lain, bukan cuma dari satu vendor, bisa dua vendor, tiga vendor. Jadi kita harus terus mencari sumber bahan baku yang berkualitas, tapi harganya bisa lebih kompetitif, sebab ibu ibu juga selektif terhadap harga,” ujar Jeffrey.
Pandangan tersebut diperkuat oleh kebutuhan nutrisi anak yang masih menjadi perhatian utama para orang tua. Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med. SC., Sp.A. menjelaskan bahwa lemak merupakan salah satu makronutrisi penting yang dibutuhkan anak dalam jumlah besar. “Bagi orang dewasa, gula, garam, lemak harus dibatasi. Namun, ini tidak berlaku untuk anak-anak di bawah dua tahun, terutama sekali lemak. Lemak itu penting sekali untuk anak. Lemak wajib ada di tiap menu MPASI anak,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan lemak anak di bawah dua tahun mencapai 39 persen dari total kebutuhan kalori harian, sementara anak di atas dua tahun membutuhkan sekitar 34 persen. “Otak anak dibentuk dalam dua tahun pertama, dan salah satu pembentuk utama otak adalah lemak. Kalau anak tidak mendapat lemak yang cukup, perkembangan otaknya jadi tidak optimal,” ujarnya.
Dengan kombinasi pasar yang masih berkembang, kebutuhan edukasi yang besar, serta fokus konsumen terhadap kesehatan anak, Barefood melihat ruang pertumbuhan jangka panjang tetap terbuka. Apalagi perusahaan yang memiliki fasilitas manufaktur sendiri dan telah mendistribusikan produknya di sekitar 40 titik kota besar di Indonesia itu juga masih mengandalkan kanal offline sebagai kontributor utama penjualan, tetapi penjualan online terus meningkat.
Dalam lima tahun ke depan, Jeffrey mengungkapkan ambisi perusahaan tidak hanya terbatas pada peluncuran produk baru. Namun, Barefood ingin memperkuat posisinya sebagai perusahaan yang berfokus pada kesehatan anak melalui berbagai inovasi nutrisi yang tetap mengutamakan rasa, kealamian bahan, dan keterjangkauan harga. “Fokus kita adalah produk-produk yang kita keluarkan harus tiga aspek: enak, alami, dan harganya harus bisa terjangkau," katanya.


















