Jakarta, FORTUNE — PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$50,85 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut melesat 18,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$43,09 juta.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan dan permintaan jasa pelayaran yang masih terjaga. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan SMDR mencapai US$647,37 juta atau meningkat 13,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bruto perusahaan meningkat menjadi US$113 juta dari periode sebelumnya US$107 juta. Laba sebelum pajak juga tumbuh menjadi US$78,85 juta.
Walhasil, perseroan mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$50,85 juta, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$43,09 juta.
Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani Maulana mengatakan perusahaan optimistis terhadap prospek bisnis hingga akhir tahun bahkan pada 2027, Meski demikian, perusahaan akan tetap mencermati risiko perlambatan ekonomi dan perubahan permintaan pasar.
“Untuk 2027 kami masih optimistis dan tetap berhati-hati. Jasa pelayaran masih amat sangat dibutuhkan,” katanya dalam paparan publik online, Jumat (30/10).
Salah satu indikator yang menopang optimisme tersebut juga terjadi seiring dengan kepadatan aktivitas di sejumlah pelabuhan dunia, termasuk Indonesia.
Kondisi kongesti pelabuhan atau antrean kapal dinilai mencerminkan tingginya permintaan terhadap layanan logistik dan pelayaran. Situasi tersebut juga berpotensi menopang tarif angkutan dan layanan pelabuhan.
Dari sisi nilai tukar, pelemahan rupiah dinilai tidak memberikan tekanan langsung yang signifikan terhadap pendapatan bisnis internasional SMDR. Pasalnya, sebagian pendapatan dari kegiatan pelayaran internasional diterima dalam dolar AS.
Meski demikian, investasi untuk bisnis pelayaran dan layanan pelabuhan turut memperhitungkan komponen biaya berbasis dolar AS. Dengan begitu, pelemahan rupiah perlu dilihat berdasarkan struktur pendapatan dan biaya masing-masing lini usaha.
