Jakarta, FORTUNE – Industri rumah sakit mulai bergerak melampaui layanan kuratif. Rumah sakit tidak lagi hanya menjadi tempat masyarakat mencari pengobatan ketika sakit, tetapi juga mengambil peran dalam pencegahan, deteksi dini, edukasi, hingga pengembangan layanan kesehatan yang dapat menarik pasien dari luar negeri.
Perubahan arah tersebut turut menjadi strategi Primaya Hospital Group yang memasuki dua dekade kiprahnya. Dengan 20 rumah sakit dan pengalaman melayani 16 juta pasien, Primaya memperkuat clinical excellence sekaligus mengembangkan layanan unggulan untuk memperluas akses kesehatan dan mendukung pertumbuhan medical tourism di Indonesia.
Salah satu langkahnya dilakukan melalui Primaya Fair 2026 yang digelar di Main Atrium AEON Mall BSD City. Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, kegiatan tersebut membawa tema “20 Years of Excellence, Care That Matters to You” dan menghadirkan rangkaian edukasi serta layanan kesehatan kepada masyarakat.
Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Yanti Herman mengatakan rumah sakit tidak hanya berfokus pada pasien yang sudah mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga masyarakat tetap sehat.
“Rumah sakit tidak hanya melayani masyarakat yang sakit, tetapi juga bagaimana masyarakat tetap sehat. Primaya Fair menjadi salah satu kanal untuk edukasi kesehatan. Jadi, dari hospital care kita bergerak menjadi healthcare,” ujarnya dalam Konferensi Pers Pembukaan Primaya Fair 2026 di Tangerang, Rabu (23/9).
Perubahan tersebut sekaligus membuka ruang bagi rumah sakit untuk memperkenalkan kemampuan layanan kesehatan Indonesia kepada pasar internasional. Menurut Yanti, penguatan layanan unggulan dapat menjadi bagian dari upaya Indonesia meningkatkan daya saing medical tourism.
“Kita ingin menunjukkan bahwa rumah sakit di Indonesia memiliki kemampuan dan layanan yang tidak kalah dengan negara lain. Primaya Hospital memiliki potensi untuk memperkenalkan layanan unggulannya kepada masyarakat internasional, termasuk melalui expo kesehatan di luar negeri,” katanya, menambahkan.
Bagi Primaya, pengembangan layanan tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga standar pelayanan di seluruh jaringan rumah sakit. CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan konsep One Primaya agar standar layanan tetap terjaga meski rumah sakitnya tersebar di berbagai kota.
Konsep tersebut mencakup jaringan Primaya di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Makassar, Pangkal Pinang, Palangkaraya, Semarang, dan sejumlah wilayah lainnya. Dengan pendekatan yang seragam, perusahaan berupaya memastikan pasien mendapatkan standar pelayanan yang konsisten di seluruh jaringan.
“20 tahun bukan hanya tentang angka. Ini tentang kepercayaan. Tentang pasien yang datang membawa harapan, keluarga yang mencari kepastian, dan dokter, tenaga kesehatan, serta seluruh Primayan yang setiap hari memberikan yang terbaik,” ujar Leona.
Bagi Primaya, excellence tidak semata-mata diukur dari kepemilikan teknologi dan fasilitas kesehatan. Perusahaan menggabungkan knowledge, expertise, technology, dan experience untuk menghasilkan layanan serta outcome yang relevan bagi pasien. Sementara aspek care diarahkan pada upaya membantu masyarakat mengenali kondisi kesehatan lebih awal, memahami risiko, dan mengambil langkah pencegahan.
Leona menjelaskan, Primaya Fair juga menjadi salah satu kanal untuk memperkenalkan layanan dan paket kesehatan kepada masyarakat. Leona mengatakan jumlah pengunjung yang ditargetkan pada penyelenggaraan kedua ini sekitar dua kali lipat dibandingkan tahun pertama yang mencapai sekitar 1.400 pengunjung.
Menurut Leona, kontribusi kegiatan terhadap pendapatan perusahaan tetap ada, meski porsinya relatif kecil karena Primaya Fair lebih diarahkan sebagai sarana promosi dan edukasi.
Selain sisi komersial, Primaya memperkenalkan kapasitas klinisnya. Tahun ini, masyarakat dapat mengikuti 20 Health Talk, mengenal delapan Centers of Excellence, serta mengakses berbagai pilihan pemeriksaan kesehatan.
Menyoal bisnis, Primaya juga menyiapkan Primaya Hospital BSD sebagai rumah sakit ke-21 untuk memperluas jaringan layanan. Ekspansi ini berlangsung ketika perusahaan memperkuat standar pelayanan melalui konsep One Primaya di seluruh jaringan rumah sakitnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, menilai posisi Banten yang strategis dapat mendukung pengembangan layanan kesehatan dan medical tourism. Kehadiran Primaya Hospital BSD juga dinilai dapat memperkuat akses layanan kesehatan bagi masyarakat Banten dan wilayah sekitarnya.
“Primaya Fair bisa menjadi role model bagaimana rumah sakit menghadirkan edukasi kesehatan yang dikemas secara menarik dan menjangkau masyarakat lebih luas. Upaya promotif dan preventif seperti ini perlu terus digalakkan untuk mewujudkan Banten yang sehat,” ujarnya.
