Jakarta, FORTUNE - Di tengah penyaluran pinjaman daring yang tumbuh subur, risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 mengintai mencapai ambang batas yang ditentukan regulator.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman mengatakan outstanding industri layanan bersama berbasis teknologi atau fintech lending tumbuh 17,02 persen secara tahunan (YoY) senilai Rp106,48 triliun per September 2026.
"Dengan nominal tersebut diantaranya disalurkan kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebesar 12,49 persen secara tahunan," kata Agusman dalam konfrensi pers OJK, Rabu (5/11).
Agusman menilai, capaian tersebut mencerminkan perkembangan industri pinjaman daring dalam mendukung akses pendanaan bagi masyarakat di sektor produktif.
Kendari demikian, OJK juga menyoroti tingginya angka kredit macet secara industri yang mencapai 5,36 persen. Angka tersebut telah melampaui ambang batas aman lima persen yang ditetapkan OJK. Padahal September tahun lalu, posisi kredit macet masih aman di level 2,82 persen.
"Perkembangan kualitas pendanaan industri LPBBTI terus menjadi perhatian," kata Agusman.
Ia pun meminta agar pelaku usaha mendorong pertumbuhan industri yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan kualitas pendanaan, penguatan manajemen risiko, serta pelindungan konsumen.
Salah satu pelaku industri, PT Teknologi Merlin Sejahtera atau dikenal dengan UKU Indonesia mencatatkan tingkat kualitas pendanaan macet di level 2,98 persen.
Sementara itu, pembiayaan yang disalurkan tercatat sebesar Rp687,18 miliar untuk periode Januari–September 2026.
Direktur Utama UKU, Tony Jackson, menjelaskan rata-rata tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB90) sebesar 97,52 persen. Jumlah pemberi dana aktif juga bertambah dari enam pada akhir 2025 menjadi delapan per September 2026.
"UKU terus tumbuh secara bertahap, dengan memperkuat penilaian kelayakan, efisiensi operasional, dan kolaborasi bersama lembaga jasa keuangan," kata Tony.