Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Siasat APL Mengawal Transformasi Medis Indonesia
Christophe Piganiol, Direktur Utama PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) saat bertemu dengan wartawan di Jakarta (1/4/2026). Dok: APL
  • Penguatan akses layanan kesehatan di seluruh Indonesia dilakukan via kolaborasi lintas pihak, teknologi distribusi canggih, dan strategi logistik tangguh untuk menjangkau wilayah terpencil serta rawan bencana.

  • Mengedepankan pengembangan SDM lewat edukasi bagi lebih dari 22.000 tenaga kesehatan.

  • Komitmen keberlanjutan diwujudkan lewat penggunaan kendaraan listrik, panel surya, serta program sosial.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Hamparan alam Indonesia yang merentang dari Sabang hingga Merauke acap kali menjadi tantangan bagi pemerataan fasilitas publik. Tak terkecuali ihwal kesehatan. Menjawab kekusutan geografis ini, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) menebalkan komitmen dalam menggenjot akses medis.

“Kami percaya setiap warga Indonesia berhak mendapatkan akses yang setara terhadap layanan kesehatan berkualitas,” kata Christophe Piganiol, Direktur Utama PT Anugerah Pharmindo Lestari. “Tidak hanya di Jakarta, Jakarta cukup mudah. Tetapi di banyak tempat. Saya secara pribadi telah mengunjungi lebih dari 40 kota di negara ini. Dari Aceh hingga Jayapura,” ujarnya ketika berbicara di hadapan wartawan di Jakarta (1/4).

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini telah menjangkau lebih dari 98 persen populasi. Angka raksasa ini--“banyak negara, termasuk Amerika Serikat, tidak bisa melakukannya,” kata Christophe--menuntut rantai pasok yang tak sekadar panjang, tapi tahan banting.

Tantangan riil membentang nyata di lapangan.

“Bagaimana obat bisa sampai ke Ternate?” katanya retoris. Untuk rute jauh nan mahal, APL, yang merupakan perusahaan solusi layanan kesehatan, memilih taktik bahu-membahu ketimbang sikut-sikutan.

“Berkolaborasilah. Jika Anda berkolaborasi dengan satu atau dua pihak lain, biayanya bisa ditekan. Di Jakarta kita bersaing, OK. Tetapi, di daerah terpencil Anda harus berkolaborasi. Kita melakukannya bukan untuk melawan satu sama lain, kita melakukannya untuk pasien,” katanya.

Bukan semata urusan jarak, Indonesia bersemayam di atas wilayah rawan bencana. Mengantisipasi amuk alam, perusahaan beroperasi dengan bekal teknologi distribusi mutakhir. National Distribution Center (NDC) perusahaan disokong pemantauan suhu real-time, sistem data terintegrasi, hingga tata laksana pengemasan cold chain unik bernama eZCooler.

“Ketahanan adalah tentang menguji kemampuan jika terjadi sesuatu,” ujar Christophe.

Ia mencontohkan fasilitas gudang di Palu, Sulawesi Tengah, yang sengaja didirikan jauh dari bibir pantai guna meredam hantaman tsunami, serta pengaplikasian Cold Chain Room yang amat vital menjaga nyawa pasien lewat suplai stabil obat diabetes, vaksin, maupun produk dialisis kala krisis melanda.

Infrastruktur fisik belumlah purna tanpa sokongan peranti lunak bernama sumber daya manusia. Sepak terjang APL merambah ranah edukasi dan komersialisasi terapi mutakhir guna menekan angka penyakit tidak menular (PTM). Melalui sinergi erat lintas pemangku kepentingan, perusahaan telah memfasilitasi lebih dari 22.000 tenaga kesehatan dengan program edukasi.

“Mengapa? Kami membuatnya dapat diakses. Kami ingin masyarakat mendapatkan standar perawatan tertinggi di Indonesia,” katanya.

Langkah mulus ini kian bertenaga lantaran sinergi dengan regulator berjalan apik.

“Dulu butuh waktu hampir dua tahun untuk registrasi, lalu turun rata-rata jadi satu tahun, dan sekarang kami bisa mendapatkan beberapa persetujuan [BPOM] hampir dalam tiga bulan,” ujar Christophe.

Percepatan ini diyakini mampu mengerem eksodus pasien lokal yang kerap berobat ke luar negeri seperti Singapura atau Malaysia.

Pilar lain yang pantang diabaikan dalam transformasi ini adalah operasi berkelanjutan. Konsep ramah lingkungan diinjeksi bukan sebatas pemanis citra korporasi. Di sini, Christophe menepis anggapan miring bahwa inisiatif hijau sekadar hobi perusahaan tajir.

“Setiap proyek keberlanjutan yang kami lakukan adalah untuk menghemat uang,” katanya berkilah.

Penggunaan armada kendaraan listrik (EV) yang disandingkan dengan panel surya, serta kebijakan tanpa ampun terhadap penggunaan botol plastik sekali pakai di lingkungan kantor, membuktikan sahihnya klaim tersebut.

Dampak nyata bagi masyarakat (grassroots) dibuktikan lewat torehan angka.

Sepanjang 2025, APL mengeksekusi 68 program akses kesehatan, mencakup inisiatif vaksinasi bagi 2.750 warga dan donor darah sebanyak 425 kantong.

Program "APL Mengajar" pun melawat ke sekolah-sekolah, membekali 2.700 bocah perihal gizi dan sanitasi. Tak luput, kawah candradimuka bagi talenta muda dibuka lewat sayembara inovasi keberlanjutan yang sukses menjaring 130 ide brilian dari 52 perguruan tinggi.

Editorial Team