Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi transisi energi. (Unsplash.com)
  • Volatilitas harga minyak dan pelemahan rupiah meningkatkan kerentanan anggaran negara serta belanja subsidi dan kompensasi energi.

  • IISD menyoroti perlunya reformasi subsidi berbasis bantuan langsung dan perbaikan DTSEN agar penyaluran lebih tepat sasaran.

  • Pengembangan PLTS 100 GW menghadapi tantangan regulasi, tata kelola, pendanaan, proyek, dan koordinasi lintas lembaga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2021

Belanja subsidi dan kompensasi energi tercatat sebesar Rp234 triliun.

2025

Belanja subsidi dan kompensasi energi meningkat menjadi Rp394 triliun. Kapasitas PLTU juga naik 4 GW atau sekitar tujuh persen menjadi 60,7 GW.

September 2026

Harga minyak mentah Indonesia mencapai US$112,81 per barel, sedangkan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Konsumsi BBM bersubsidi meningkat 9,1 persen menjadi sekitar 13,4 juta kiloliter.

Jumat (30/10)

Achmad Zacky Ambadar menyatakan perbaikan DTSEN menjadi peluang untuk memprioritaskan rumah tangga yang paling membutuhkan dan menjaga ruang fiskal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Transisi energi berkelanjutan perlu dipercepat karena harga minyak mentah berada jauh di atas asumsi APBN, sementara pengembangan energi terbarukan masih menghadapi sejumlah tantangan.
  • Who?
    International Institute for Sustainable Development (IISD), Achmad Zacky Ambadar, Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, dan PLN.
  • Where?
    Indonesia, dengan pembahasan yang mencakup harga minyak mentah Indonesia, APBN, serta program PLTS 100 GW.
  • When?
    Pada September 2026, harga ICP mencapai US$112,81 per barel. Achmad menyampaikan pernyataannya pada Jumat (30/10), sementara data kapasitas PLTU mencakup sepanjang 2025.
  • Why?
    Ketergantungan terhadap BBM membuat anggaran negara rentan terhadap gejolak harga minyak global, sedangkan reformasi subsidi dan energi bersih belum optimal.
  • How?
    Melalui reformasi subsidi berbasis bantuan langsung, perbaikan DTSEN, pengembangan PLTS 100 GW, serta dukungan regulasi, tata kelola, pendanaan, dan koordinasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Harga minyak menjadi sangat mahal, jadi uang negara untuk subsidi ikut bertambah. Achmad dari IISD menyarankan bantuan diberikan langsung kepada orang yang membutuhkan. Ada juga rencana memakai lebih banyak tenaga surya lewat PLTS 100 GW. Namun, aturan dan kerja sama untuk menjalankannya masih belum siap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perbaikan DTSEN dapat menjadi peluang untuk memprioritaskan rumah tangga yang paling membutuhkan sekaligus menjaga ruang fiskal. Di sisi energi, program PLTS 100 GW dan kapasitas produksi modul surya domestik menunjukkan adanya arah pengembangan energi terbarukan, meski kesiapan indikator pendukungnya belum sepenuhnya tercapai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - International Institute for Sustainable Development (IISD) mendesak percepatan transisi energi berkelanjutan, merespon volatilitas minyak mentah yang terus melonjak dan kian jauh jauh diatas asumsi APBN. Reformasi subsidi, akses energi bersih, dan diversifikasi sumber energi pun dinilai belum optimal.

Pada September 2026, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) mencapai US$112,81 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS, dibandingkan asumsi APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS. Sementara itu, konsumsi BBM bersubsidi meningkat 9,1 persen menjadi sekitar 13,4 juta kiloliter.

Lead Electric Mobility and Indonesia Energy IISD, Achmad Zacky Ambadar mengatakan, volatilitas harga minyak menunjukkan pentingnya reformasi subsidi dengan mengalihkan skema penyaluran dari berbasis komoditas menjadi bantuan langsung kepada individu agar lebih tepat sasaran.

"Perbaikan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi peluang untuk memprioritaskan rumah tangga yang paling membutuhkan sekaligus menjaga ruang fiskal untuk prioritas pembangunan lainnya," ujar Achmad, Jumat (30/10).

Menurut Achmad, kenaikan harga minyak turut memperberat belanja subsidi dan kompensasi energi yang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Secara gabungan, belanja tersebut naik 68,4 persen, dari Rp234 triliun pada 2021 menjadi Rp394 triliun pada 2025.

Kenaikan itu terdiri dari peningkatan subsidi sebesar 30,5 persen dan kompensasi yang melonjak 124,5 persen. Di sisi lain, distribusi manfaat subsidi energi masih belum merata. Sekitar separuh manfaat subsidi justru dinikmati oleh 20 persen rumah tangga terkaya.

Selain reformasi subsidi, percepatan pengembangan energi terbarukan juga menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Salah satunya melalui program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW yang ditujukan untuk mempercepat pemanfaatan energi surya dan memperluas akses energi.

Namun, implementasi program tersebut dinilai masih membutuhkan dukungan regulasi, tata kelola, serta mekanisme pelaksanaan yang jelas. Institute for Essential Services Reform (IESR) mengembangkan scorecard dengan tujuh indikator untuk menilai kesiapan dan kemajuan PLTS 100 GW, mencakup tata kelola, kebijakan dan regulasi, perencanaan sistem kelistrikan, teknologi dan rantai pasok, pendanaan, kesiapan proyek, serta kerja sama antarpemangku kepentingan.

Hasil penilaian menunjukkan belum ada indikator yang sepenuhnya siap. Teknologi dan rantai pasok paling mendekati kesiapan, didukung kapasitas produksi modul surya domestik sekitar 11–14 GW per tahun.

"Kondisi ini juga diperberat oleh koordinasi lintas lembaga yang belum optimal, terbatasnya proyek yang siap ditawarkan kepada investor dan kesiapan mekanisme pengadaan PLTS skala besar di PLN," kata Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer IESR.

Tantangan transisi energi juga terlihat dari masih bertambahnya kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara. Sepanjang 2025, kapasitas PLTU meningkat 4 GW atau sekitar tujuh persen menjadi 60,7 GW. Sementara itu, PLTU captive atau pembangkit yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri belum tercakup dalam skema pensiun dini.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article