Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI-Rate Tetap 5,75 Persen, Deposit Facility Naik Jadi 5 Persen
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (21/10/2026). (IDN Times/Triyan)
  • BI mempertahankan BI-Rate 5,75 persen dan lending facility 6,50 persen, sambil menaikkan deposit facility 25 basis poin menjadi 5 persen untuk stabilisasi rupiah dan inflasi.
  • Rupiah melemah 0,61 persen menjadi Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, dipengaruhi konflik Timur Tengah, pengetatan moneter AS, dan sentimen investor asing.
  • BI memperluas insentif lindung nilai dan transaksi LCT; kebijakan sejak Juni 2026 mencatat aliran modal asing US$9,9 miliar, sementara pertumbuhan Indonesia diproyeksikan 4,9–5,7 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen dan suku bunga lending facility pada 6,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Oktober 2026, serta menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen sebagai strategi stabilisasi nilai tukar rupiah merespons dinamika eksternal.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan kebijakan moneter tersebut juga bertujuan menjaga pencapaian sasaran inflasi pada level 2,5±1 persen untuk periode 2026 dan 2027.

“Keputusan ini diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada Bank Indonesia guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA),” demikian Destry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10).

Depresiasi rupiah menjadi salah satu latar belakang penyesuaian bauran kebijakan tersebut. Setelah mencatatkan penguatan hingga pertengahan September 2026, rupiah berada pada Rp17.985/US$ per 20 Oktober 2026, atau terdepresiasi 0,61 persen (point-to-point) dibandingkan dengan posisi akhir September 2026.

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham,” kata Destry.

Merespons dinamika tersebut, bank sentral merilis insentif instrumen swap beli lindung nilai konvensional untuk transaksi underlying pendanaan luar negeri, yang mencakup portfolio inflows, pinjaman luar negeri perbankan, dan foreign direct investment. Insentif ini berupa pengurangan premi 15 persen untuk tenor 3 bulan, 20 persen untuk tenor 6 bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.

Insentif tambahan juga diberikan pada transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra berupa penambahan premi swap jual lindung nilai konvensional sebesar 10 persen. BI memangkas premi DNDF lindung nilai sebesar 10 persen untuk transaksi perdagangan dan investasi internasional.

Sejak berlakunya aturan ini pada Juni 2026, implementasi insentif tersebut membukukan aliran masuk modal asing senilai US$9,9 miliar per 20 Oktober 2026.

Terkait perekonomian global, tensi geopolitik di Timur Tengah berimbas pada harga minyak dan berbagai komoditas dunia.

“Pertumbuhan ekonomi global 2026 diprakirakan masih lemah sekitar 3,0 persen dan tekanan inflasi tetap tinggi sekitar 4,6 persen. Di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portofolio di negara emerging markets masih terbatas dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang,” ujar Destry.

Suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (Fed Funds Rate) berpeluang naik dalam jangka waktu lanjutan (higher for longer). Di tingkat domestik, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berkisar 4,9-5,7 persen, ditopang oleh kelanjutan stimulus pemerintah serta ekspektasi pelaku ekonomi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article