Jakarta, FOTUNE - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) tercatat telah menyalurkan kredit Rp968,5 triliun hingga Juni 2026, atau tumbuh 24,4 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi, mulai dari korporasi, menengah, UMKM hingga konsumer.
Menurut Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena, ekspansi kredit dilakuan agar strategi intermediasi tersebut berjalan seiring dengan penguatan struktur pendanaan. Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, CASA BNI tumbuh 11,2 persen secara tahunan sehingga mampu mempertahankan rasio CASA pada level 65,4 persen.
"Struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi BNI. Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur," ujar Paolo salam keterangannya, Kamis (6/8).
Solidnya pertumbuhan kredit tersebut mendorong pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI mencapai Rp22,3 triliun atau meningkat 14,2 persen secara tahunan.
Selain mengandalkan kredit, BNI juga memperkuat sumber pendapatan lainnya di tengah berbagai tantangan ekonomi. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) mampu tembus Rp9 triliun atau meningkat 14,2 persen.
Kombinasi kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp10,8 triliun.
"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," ujar Paolo.
Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, kualitas aset menunjukkan ketahanannya. Hingga akhir Juni 2026, loan at risk (LAR) membaik dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen, sementara rasio non performing loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.
Paolo menyebut membaiknya kualitas asset tersebut sejalan dengan upaya BNI mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko. Kebijakan tersebut memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Dari sisi digital, BNI mencatatkan jumlah pengguna wondr mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan.
Sementara pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu, dengan volume transaksi tumbuh 17 persen secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.
