Jakarta, FORTUNE – PT Bank Jago Tbk (Bank Jago) membukukan laba bersih atau net profit after tax (NPAT) senilai Rp86 miliar pada Maret 2026, meningkat 42 persen dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp60 miliar.
Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris, menyatakan kinerja yang positif ini disokong oleh kenaikan jumlah pengguna serta penyaluran kredit yang tumbuh 24 persen (YoY) dengan nilai Rp25,2 triliun.
Menurutnya, pencapaian ini terkait pula dengan strategi kolaborasi dengan berbagai mitra (partner), termasuk ekosistem dan platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan lainnya.
“Kini aplikasi Jago bukan sekadar tempat untuk menabung dan bertransaksi, tetapi sudah menjadi tempat untuk menumbuhkan keuangan nasabah secara lebih menyeluruh,¨ kata Arief melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (24/4).
Dengan situasi ekonomi terkini, bank digital ini juga mengedepankan prinsip kehati-hatian. Ini tecermin pada rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang rendah pada level 0,8 persen.
Di sisi lain, jumlah nasabah Bank Jago mencapai 19,4 juta, termasuk 15,2 juta nasabah funding pengguna Aplikasi Jago. Arief menjelaskan, total nasabah Bank Jago ini bertambah lebih dari 3 juta dibandingkan dengan posisi akhir kuartal I-2025 yang mencapai 16,3 juta.
Pertumbuhan nasabah funding ini berjalan seiring dengan peningkatan DPK sebesar 23 persen secara tahunan.
Arief menjelaskan, hingga Maret 2026 total DPK Bank Jago mencapai Rp26,4 triliun, dari total DPK, porsi current account and savings account (CASA) sebesar 53 persen atau setara Rp13,9 triliun.
Sisanya adalah deposito yang menyumbang 47 persen atau Rp12,5 triliun.
Kinerja yang solid turut mendorong total aset Bank Jago, yang hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp39,5 triliun alias tumbuh 22 persen ketimbang periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp32,5 triliun.
Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank juga terjaga pada level 29,9 persen. Kondisi ini memberikan cukup ruang demi mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Sementara itu, rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 95 persen.
