Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kelolaan Tembus Rp120 Triliun, OCBC Pacu Segmen Wealth Management
OCBC Luncurkan Premier One Untuk Nasabah Kaya/Dok OCBC
  • OCBC meluncurkan Premier One, layanan perbankan berbasis undangan bagi nasabah dengan dana kelolaan di atas Rp10 miliar, menawarkan advisory dan solusi portofolio personal.

  • Riset OCBC menunjukkan nasabah affluent lebih aktif 20 persen; 75 persen meminta saran sesuai kondisi, sementara dominasi deposito memperkuat kebutuhan diversifikasi melalui advisory.

  • Bisnis wealth management OCBC tumbuh CAGR 29 persen selama 2022–2025, dengan nilai dana kelolaan menembus Rp120 triliun pada akhir 2025.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) merilis Premier One di Jakarta, Selasa (20/10), yakni fasilitas perbankan berbasis undangan dengan batas dana kelolaan di atas Rp10 miliar untuk mengakomodasi kebutuhan pengelolaan kekayaan nasabah lewat pendampingan (advisory) dan solusi portofolio.

“Bagi nasabah affluent, pengalaman yang baik dimulai ketika bank memahami keseluruhan konteks hidupnya, bukan hanya angka pada portofolio. Personalisasi berarti memberikan akses yang mudah kepada advisory, solusi perbankan, dan manfaat yang benar-benar relevan,” ujar Customer Experience Head OCBC, Hayati Indah Putri.

Berdasarkan riset OCBC 2026 Net Promoter Score Study, nasabah affluent mencatatkan tingkat engagement 20 persen di atas nasabah pada umumnya. Faktor penentu tingkat kepuasan mencakup ketersediaan solusi investasi dari pihak bank.

Pada praktiknya, 75 persen investor affluent meminta saran berdasar kondisi masing-masing. Sementara itu, 70 persen investor berharap advisor memberikan pandangan tanpa keharusan permintaan awal.

Data Hubbis Indonesia pada April 2026 menunjukkan 59 persen wealth professionals menilai nasabah Indonesia masuk dalam kategori knowledgeable. Namun, penempatan saldo tabungan dan investasi ritel di atas 70 persen masih berada pada instrumen deposito.

Fakta ini mendasari urgensi advisory dalam menerjemahkan tujuan nasabah menjadi strategi portofolio dengan penerapan diversifikasi.

“Keleluasaan solusi investasi menjadi penting karena tidak ada satu instrumen yang dapat menjawab seluruh kebutuhan nasabah. Wealth management yang personal dimulai dari pemahaman terhadap tujuan nasabah, kemudian diterjemahkan menjadi strategi dan akses kepada solusi investasi yang relevan,” demikian Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole.

Secara global, 68 persen high-net-worth individuals merencanakan penambahan eksposur pada instrumen private equity. Di sisi lain, hanya 17 persen nasabah yang menilai pengalaman advisory mereka telah mencapai standar seamless dan personalized.

Kondisi tersebut menegaskan penambahan jumlah produk tidak otomatis menjawab kebutuhan nasabah. Perbankan perlu menyediakan advisory guna menilai relevansi produk, memahami risiko, dan menentukan posisi portofolio. Kesesuaian profil risiko, tujuan investasi, kebutuhan likuiditas, dan pemahaman nasabah menjadi fondasi rekomendasi.

Sebagai konteks, bisnis wealth management OCBC membukukan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 29 persen pada periode 2022 hingga Desember 2025. Nilai kelolaan sektor ini menembus Rp120 triliun pada akhir 2025. Pencapaian tersebut merefleksikan terbangunnya kepercayaan nasabah pada layanan penasihat keuangan dan solusi finansial OCBC.

Curated For You

Editorial Team

Related Article