Comscore Tracker
FINANCE

Ekonom: Konsumsi Rumah Tangga Membaik Meskipun Masih Rendah

Pertumbuhan ekonomi belum menyamai era sebelum pandemi.

Ekonom: Konsumsi Rumah Tangga Membaik Meskipun Masih RendahWarga melintasi toko di pusat perbelanjaan Rangkasbitung, Lebak, Banten, Kamis (9/12/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Sejumlah ekonom menyoroti tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia yang masih rendah dari total kinerja pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto/PDB) meskipun lebih baik dari sebelumnya.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, misalnya, mengatakan pemulihan konsumsi rumah tangga RI masih belum maksimal. Padahal, komponen pengeluaran tersebut berkontribusi besar terhadap kinerja ekonomi keseluruhan. Akibatnya, pemulihan ekonomi RI diperkirakan belum melaju sesuai harapan.

“Konsumsi rumah tangga sempat turun di kuartal ketiga akibat gelombang ketiga varian COVID-19 Delta. Sama halnya dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat pada periode sama. Karena itu, pertumbuhan keseluruhan tahunnya juga belum kembali normal,” kata Josua kepada Fortune Indonesia, Senin (7/2).

Badan Pusat Statistik (BPS), dalam konferensi pers, mengumumkan konsumsi rumah tangga pada kuartal keempat 2021 tumbuh 3,55 persen secara setahunan (year-on-year/yoy), atau naik dari 1,02 persen yoy pada kuartal sebelumnya. Konsumsi sempat tumbuh 5,96 persen pada kuartal kedua tahun sama. Secara keseluruhan, konsumsi 2021 meningkat 2,02 persen.

Konsumsi rumah tangga menyumbang 52,91 persen terhadap PDB. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat mencapai 5,02 persen, dan pada keseluruhan tahun lalu 3,69 persen.

Jika dibandingkan terlihat kinerja pemulihan konsumsi lebih rendah dari total pertumbuhan ekonomi. Sebagai tambahan, realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut juga lebih rendah dari 4 persen target pemerintah versi Kementerian Keuangan.

Kepada Antara, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah, berpendapat pertumbuhan konsumsi Oktober-Desember 2021 belum cukup tinggi lantaran pandemi COVID-19 masih berlangsung. “Pertumbuhan konsumsi ini walaupun lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal ketiga yang tumbuh sebesar 1,06 persen secara kuartalan, tetapi termasuk sangat rendah,” ujarnya.

Perincian konsumsi rumah tangga

Kepala Badan Pusat Statistik, Margo Yuwono, mengatakan ada berbagai indikator terkait pemulihan konsumsi rumah tangga pada kuartal terakhir tahun lalu, yaitu penjualan eceran melaju 8,74 persen, penjualan wholesale (dari pabrik ke diler) mobil penumpang dan sepeda motor masing-masing 72,87 persen dan 64,7 persen, dan nilai transaksi uang elektronik yakni kartu kredit dan debit meningkat 9,11 persen.

“Jadi berbagai hal itu yang memberikan penguatan kenapa konsumsi rumah tangga mampu tumbuh di kuartal keempat,” katanya.

Konsumsi rumah tangga ini dibentuk dari tujuh kelompok pengeluaran. Menurut data BPS, konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh 5,34 persen secara setahunan. Setelahnya, konsumsi makanan & minuman selain restoran meningkat 3,24 persen dan perlengkapan peralatan rumah tangga 3,09 persen.

Josua menduga, di samping perkara pembatasan darurat pada kuartal ketiga 2021, konsumsi juga tertahan oleh masyarakat menengah atas dan atas yang masih enggan untuk berbelanja. Padahal, kelompok tersebut berkontribusi besar terhadap tingkat konsumsi nasional. Sedangkan, konsumsi masyarakat menengah ke bawah juga masih terusik, dan karena itu masih membutuhkan bantuan pemerintah.

Pernyataan Josua bertolak dari tren masih meningkatnya dana pihak ketiga (DPK) di perbankan. Berdasarkan data Analisis Perkembangan Uang Beredar (M2) Bank Indonesia, sampai Desember 2021, DPK warga di perbankan sanggup tumbuh 12,1 persen setahunan, meningkat dibandingkan 10,3 persen pada bulan sebelumnya.

Dia pun memperkirakan konsumsi rumah tangga bisa jadi kembali melambat pada kuartal pertama tahun ini karena terusik gelombang ketiga COVID-19 Omicron. Namun, konsumsi diharapkan lekas membaik pada kuartal berikutnya. Di luar itu, pada 2022 ini juga terdapat sejumlah tantangan terkait konsumsi, termasuk harga bahan pokok yang mahal serta kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) yang naik menjadi 11 persen.

“Tahun ini konsumsi rumah tangga diharapkan membaik. Tapi belum akan kembali normal 5 persen. Perkiraan saya di kisaran 4 sampai 5 persen,” ujarnya.

Senada, Piter juga berpendapat konsumsi masih terbatas karena kelompok menengah atas yang membatasi belanjanya. Menurutnya, konsumsi makan dan minum serta barang primer lainnya mungkin sudah kembali normal, namun sebaliknya untuk konsumsi barang sekunder dan mewah masih di bawah level normalnya.

Proyeksi pemerintah

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah akan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal satu tahun ini hingga lebih dari 5 persen secara setahunan.

“Kami melihat pertumbuhan di kuartal 1 tahun lalu masih minus 0,7 persen. Kami harapkan di kuartal satu tahun ini kami bisa dorong di atas 5 persen, dan tentunya akan mempengaruhi kuartal II karena ada puasa dan hari raya,” kata Airlangga dalam keterangan pers, seperti dinukil dari Antara.

Dari beberapa hasil survei, katanya, masyarakat tampak optimistis. Dengan begitu, perekonomian pada keseluruhan tahun ini ditaksir tumbuh 4,7 persen sampai 5,6 persen secara setahunan.

Pemerintah juga telah mengalokasikan dana sekitar Rp455,62 triliun untuk pengendalian COVID-19 pada tahun ini. Khusus untuk penangangan kesehatan, pemerintah menyediakan Rp122,5 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya mengatakan pemerintah optimistis ekonomi kuartal pertama 2022 bakal lebih baik dari periode sama tahun sebelumnya meski ada varian COVID-19 Omicron. Di samping itu, vaksinasi masih berjalan dan kegiatan ekonomi terus berlangsung.

“Dari berbagai pertimbangan ini kami cukup optimistis bahwa triwulan satu 2022 mungkin tidak seperti tahun lalu yang sangat mengalami dampak berat akibat lonjakan kasus,” kata Sri Mulyani, dalam konferensi pers, Rabu (2/2).

Related Articles