Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Efek dolar terhadap rupiah (pintu.co.id)
  • Cadangan devisa Indonesia naik US$500 juta menjadi US$146,8 miliar pada akhir Oktober 2026, meski rupiah melemah ke Rp18.145 per dolar AS pada 2 November.
  • Kenaikan terutama didorong penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, penerimaan pajak, dan jasa, yang mengimbangi pembayaran utang jatuh tempo serta stabilisasi rupiah oleh BI.
  • Cadangan devisa setara 5,3 bulan impor, tetapi arus portofolio Oktober masih keluar bersih US$120 juta; peningkatan belum menandakan tekanan rupiah dan keluarnya modal asing mereda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa mencapai US$146,8 miliar pada akhir Oktober 2026.

Catatan ini bertambah US$500 juta dari posisi akhir September 2026 yang mencapai US$146,3 miliar. Peningkatan cadangan devisa ini terjadi bersamaan dengan tren pelemahan nilai tukar rupiah, yang menyentuh level Rp18.145/US$ atau melemah 0,11 persen pada 2 November 2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkap faktor pendorong kenaikan tersebut.

Penambahan cadangan devisa terutama berasal dari penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Penerimaan pajak dan jasa juga memberikan kontribusi. Hal ini mengimbangi realisasi pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta pelaksanaan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

“Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah ini sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” kata Ramdan melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (6/11).

Dia menyatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor. Angka ini juga setara dengan 5,2 bulan impor ditambah kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi ini melampaui standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa saat ini mampu menopang ketahanan sektor eksternal, stabilitas makroekonomi, dan sistem keuangan.

Secara terpisah, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memberikan catatan atas laporan tersebut. Peningkatan cadangan devisa tidak otomatis menandakan tekanan terhadap rupiah mereda. Hal ini juga belum mengindikasikan kembalinya investor asing secara konsisten.

Josua menilai bank sentral dan investor perlu memantau tekanan arus modal. Kekhawatiran investor terhadap persoalan MSCI berpotensi mempertahankan arus modal keluar.

“Sepanjang Oktober 2026, pasar keuangan mencatat arus keluar portofolio bersih sekitar US$120 juta, terutama dari pasar saham sebesar US$940 juta, meskipun sebagian diimbangi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar US$530 juta dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar US$280 juta,” kata Josua.

Tambahan devisa dari pinjaman luar negeri pemerintah memperkuat likuiditas eksternal jangka pendek. Namun, hal ini berbeda dari peningkatan devisa dari ekspor atau investasi asing yang berkelanjutan.

Menurut Josua, BI masih memiliki bantalan untuk menjaga stabilitas rupiah, yang pengelolaannya tetap memerlukan kehati-hatian.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap terjaga. Posisi cadangan devisa dinilai memadai. Aliran masuk modal asing juga diproyeksikan berlanjut. Hal ini bertopang pada persepsi investor terhadap prospek perekonomian nasional serta imbal hasil investasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article