Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Gen-Z Masuk Pasar Kripto, FOMO Jadi Tantangan Investasi

3 min read
Gen-Z Masuk Pasar Kripto, FOMO Jadi Tantangan Investasi
Baru 23 persen Gen Z memiliki dana darurat setara tiga bulan pengeluaran. (Foto: Helena Lopes/unsplash)
  • Jumlah investor aset kripto Indonesia mencapai 22,93 juta orang hingga Juli 2026, sehingga kebutuhan literasi keuangan digital ikut meningkat.

  • PINTU dan MSS FEB UI mengedukasi mahasiswa tentang analisis instrumen, pengelolaan risiko, serta keputusan investasi tanpa FOMO.

  • Kripto diposisikan sebagai instrumen berisiko tinggi yang perlu dipilih setelah tujuan keuangan, fondasi finansial, dan literasi dibangun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 22,93 juta orang hingga Juli 2026. Pertumbuhan tersebut mendorong kebutuhan peningkatan literasi keuangan digital, terutama di kalangan generasi muda dan gen-z sebagai salah satu segmen potensial pasar aset kripto.

PT Pintu Kemana Saja (PINTU) berkolaborasi dengan Management Student Society Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (MSS FEB UI) mengadakan edukasi investasi Pintu Goes to Campus, bertajuk Cara Gen-Z Tetap Bijak Finansial di kampus Universitas Indonesia. Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 mahasiswa tersebut membahas pemahaman investasi aset digital, mulai dari analisis instrumen, pengelolaan risiko, hingga pengambilan keputusan yang tidak didasarkan pada fenomena fear of missing out (FOMO).

Founder Rencanaku.id sekaligus Dosen FEB UI Rahmat Aryo Baskoro mengatakan, aset kripto seharusnya tidak menjadi titik awal dalam menyusun perencanaan keuangan. Investor perlu terlebih dahulu menetapkan tujuan keuangan dan membangun fondasi finansial sebelum menentukan instrumen investasi.

Menurut dia, setiap instrumen memiliki karakteristik dan risiko berbeda. Aset kripto termasuk dalam kategori investasi berisiko tinggi sehingga calon investor perlu memahami potensi kerugian sebelum mengalokasikan dana.

"Kripto bukan titik awal sebuah rencana keuangan, melainkan salah satu pilihan instrumen investasi. Urutannya harus tepat: tetapkan tujuan keuangan, bangun fondasi dan literasi, baru kemudian memilih instrumen," ujarnya.

Edukasi juga menyoroti pentingnya dana darurat, diversifikasi atau alokasi aset, serta kemampuan memilah informasi investasi yang beredar di media sosial. Mahasiswa diajak memahami bahwa aset kripto bukan instrumen untuk memperoleh keuntungan secara instan, melainkan salah satu alternatif investasi yang memerlukan pengelolaan risiko.

Sementara itu Presiden Direktur PINTU, Andy Putra mengatakan, meningkatnya minat generasi muda terhadap aset kripto perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai karakteristik dan risiko instrumen tersebut.

Menurutnya, mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapatkan akses edukasi keuangan digital agar mampu mengambil keputusan investasi secara lebih terukur.

"Melalui kegiatan edukasi ini, kami berharap generasi muda dapat memahami aset kripto secara lebih komprehensif, termasuk potensi dan risikonya, sehingga mampu mengambil keputusan investasi yang lebih bijak dan bertanggung jawab," katanya.

Sementara itu, CEO Management Student Society FEB UI Fariz Rahman Hakim menilai, melimpahnya informasi mengenai investasi di ruang digital belum tentu diikuti pemahaman yang memadai. Kondisi tersebut membuat kemampuan berpikir kritis menjadi penting sebelum seseorang menentukan pilihan investasi.

Bagi pelaku industri aset kripto, peningkatan literasi juga menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman masyarakat terhadap produk investasi digital, seiring dengan bertambahnya jumlah investor di dalam negeri.

PINTU menyatakan akan melanjutkan program edukasi melalui inisiatif Pintu Goes to Campus dan sejumlah kegiatan literasi lainnya.

    Related Articles

    See More