Strategi Lauren Sulistiawati Menjinakkan Inflasi Medis
Lauren Sulistiawati resmi menjadi Presiden Direktur Manulife Indonesia mulai Mei 2025.
Strateginya berfokus pada diversifikasi produk dan perluasan kanal distribusi.
Di tengah inflasi kesehatan tinggi dan kebijakan co-payment OJK, Manulife memperkuat edukasi nasabah serta kolaborasi rumah sakit.
Jakarta, FORTUNE — Setelah tiga dasawarsa malang melintang di belantara perbankan—mulai dari ANZ Panin hingga sukses mengawal merger akbar Commonwealth Bank Indonesia dengan OCBC—Lauren Sulistiawati melakukan putar haluan mengejutkan.
Pada Maret 2025, perempuan kelahiran Bojonegoro ini menerima pinangan sebagai Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, sekaligus mencatatkan sejarah sebagai CEO non-ekspatriat pertama di perusahaan asuransi raksasa asal Kanada tersebut.
Resmi menakhodai Manulife sejak Mei 2025, Lauren masuk ke gelanggang asuransi saat industri tengah dikepung volatilitas ekonomi global dan lesunya daya beli. Namun, bagi Lauren, perpindahan ini bukan sekadar urusan karier, melainkan panggilan nurani profesional.
“Passion saya memang di ritel. Saat di bank, fokus saya handle ritel, karena itu langsung ke end-customer. Jadi, saya ingin bisa lebih mengenal industri asuransi. It's really in line with my passion,” ujar Lauren kepada Fortune Indonesia.
Di bawah kendalinya, Manulife menempuh jalur anomali. Kala para pesaing asuransi jiwa masih terbuai oleh manisnya produk unit link, Lauren justru mempertebal barisan produk proteksi tradisional. Strategi diversifikasi ini terbukti menjadi tameng ampuh. Pada pertengahan 2025, saat kinerja industri asuransi nasional mulai melandai, pendapatan Manulife tetap kokoh berkat dominasi produk proteksi murni, bukan Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI).
“Kami juga ada unit link, tapi porsinya tidak banyak, paling hanya 10 hingga 20 persen saja. Jadi, kami berbeda dengan yang lain,” katanya.
Tak hanya mengandalkan 16.000 agen sebagai ujung tombak, Lauren juga memperluas penetrasi melalui jalur bancassurance dengan menggandeng Bank Danamon dan Bank DBS Indonesia. Ia sadar, memenangkan pasar masa depan berarti harus adaptif terhadap teknologi. Alhasil, digitalisasi proses penjualan hingga klaim kini diperkuat dengan sentuhan generative artificial intelligence (AI).
“Jadi sebenarnya kekuatan kami dari segi distribusi. Apakah kami akan berekspansi? Pastinya akan kami tambah,” katanya. “Bagaimana kami bisa merambah lagi bukan saja secara geografi, tapi juga generasi."
Namun, jalan yang ditempuh Lauren bukannya tanpa rintangan. Hantu inflasi kesehatan di Indonesia tengah bergentayangan dengan kenaikan mencapai 13,6 persen pada akhir 2025—angka tertinggi dalam enam tahun terakhir. Kondisi ini memperlebar Health Protection Gap di Asia Pasifik hingga menyentuh 57 persen. Menghadapi ini, Lauren menyambut positif kebijakan co-payment dari OJK guna meredam lonjakan klaim dan mengantisipasi kecurangan.
“Masyarakat harus bisa paham bahwa ini untuk mengendalikan inflasi medis, bukan untuk mempersulit nasabah,” ujar Lauren.
Sebagai bentuk edukasi, Manulife bahkan menyediakan layanan opini pembanding (second opinion) dari dokter internasional secara cuma-cuma bagi pemegang polis penyakit kritis.
“Ini supaya keputusan medis lebih tepat dan tidak berlebihan,” ujarnya.
Meski kepemimpinannya baru seumur jagung, rapor Lauren mulai menunjukkan noktah hijau. Per September 2025, pendapatan premi Manulife Indonesia menembus Rp7,59 triliun, tumbuh tipis 1,91 persen (YoY). Sebuah pencapaian yang patut dicatat, mengingat secara keseluruhan, pertumbuhan premi industri asuransi jiwa justru tengah terkontraksi negatif 1,21 persen.


















