Jakarta, FORTUNE – CIMB Group Holdings Berhad membantah isu rencana privatisasi saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Manajemen menegaskan belum ada keputusan atau pengajuan proposal terkait dinamika kepemilikan di pasar modal Indonesia.
Group Corporate Communications CIMB Group, Tammy Toh, menyampaikan bantahan tersebut di Jakarta, Kamis (22/10). Ia menyatakan perusahaan belum menyusun rencana terkait perubahan status kepemilikan.
“CIMB Group Holdings Berhad dengan tegas membantah adanya rencana untuk melakukan privatisasi saham terhadap CIMB Niaga. Grup belum mengambil keputusan maupun mengajukan proposal formal terkait kemungkinan privatisasi saham CIMB Niaga,” kata Tammy.
Ia menambahkan CIMB Niaga merupakan bagian dari operasionalisasi regional, dan perusahaan berkomitmen melanjutkan kegiatan bisnisnya di Indonesia.
Saat ini, CIMB Group berstatus pemegang saham pengendali BNGA dengan kepemilikan 92,46 persen. Porsi ini berkaitan dengan aturan pemenuhan batas minimum kepemilikan saham publik (free float) 15 persen.
"Grup akan terus memenuhi seluruh ketentuan regulator yang berlaku, termasuk persyaratan minimum free float [batas minimum kepemilikan saham publik], secara tepat waktu dan terstruktur," ujar Tammy.
Selain mengendalikan BNGA, CIMB Group mencatatkan kepemilikan 94,83 persen saham CIMB Thai di Thailand. Entitas perbankan asal Malaysia ini menyelenggarakan layanan perbankan konsumer, komersial, wholesale, transaksi, syariah, serta manajemen aset.
Hingga 30 Juni 2026, CIMB Group mencatatkan kapitalisasi pasar di Bursa Malaysia sebesar RM80,1 miliar dan laba bersih konsolidasi semester I-2026 senilai RM3,85 miliar. Pertumbuhan di seluruh segmen bisnis regional menjadi penopang kinerja keuangan tersebut.
Perusahaan yang berkantor pusat di Kuala Lumpur ini beroperasi di Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, Filipina, Tiongkok, Hong Kong, dan Inggris. Entitas ini memiliki 524 cabang dengan lebih dari 33.000 karyawan per 30 Juni 2026.
