Jakarta, FORTUNE - Pertumbuhan olahraga raket di Indonesia tidak hanya mencerminkan perubahan gaya hidup, tetapi juga membuka peluang bisnis baru di sektor olahraga dan rekreasi. Tenis masih menjadi cabang dominan, sementara padel mulai muncul sebagai pendorong utama ekspansi pasar. Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru Liga.Tennis Racquet Sports Report 2026.
Laporan yang disusun dari hampir 100.000 pengguna di tujuh klub sepanjang 2025 tersebut mencatat tingkat keterisian lapangan tenis mencapai rata-rata 80 persen. Angka ini diikuti padel sebesar 75 persen dan pickleball 41 persen, sedangkan squash berada di level 18 persen sebagai pelengkap dalam ekosistem.
Pendiri Liga.Tennis, Dima Shcherbakov, mengatakan pergeseran pola konsumsi olahraga menjadi faktor kunci pertumbuhan industri ini. “Kami melihat adanya pergeseran signifikan dalam pola partisipasi olahraga, di mana aktivitas berbasis komunitas dan pengalaman sosial menjadi semakin dominan," ujarnya, dalam keterangan resmi, Selasa (14/4).
Dima menambahkan, laporan in dapat memberikan insight yang relevan bagi pelaku industri, investor, maupun komunitas olahraga untuk memetakan arah ke depan di industri. Dalam konteks bisnis, padel dinilai memainkan peran strategis sebagai mesin pertumbuhan. Meski tingkat pemesanan masih dipimpin tenis, karakter padel yang lebih inklusif dan berbasis sosial dinilai efektif memperluas basis pengguna sekaligus meningkatkan frekuensi kunjungan.
Dari sisi pasar, pertumbuhan terutama didorong kelompok usia produktif. Rentang usia 21–40 tahun menjadi kontributor terbesar, dengan dominasi pada tenis sebesar 65,31 persen dan padel 58,30 persen. Sementara itu, pickleball menunjukkan potensi pasar lintas usia yang lebih luas, dan squash relatif stabil dengan distribusi pemain yang seimbang.
Pola konsumsi pengguna juga menunjukkan peluang monetisasi yang konsisten. Rata-rata pengeluaran mencapai sekitar Rp400.000 per kunjungan untuk aktivitas olahraga, ditambah Rp50.000 untuk konsumsi. Secara komposisi, mayoritas pengguna berasal dari pemain lokal, dengan tambahan partisipasi ekspatriat. Pengguna laki-laki tercatat 57,3 persen dan perempuan 42,7 persen, dengan kelompok usia 31–40 tahun sebagai segmen terbesar.
Dari sisi operasional, Liga.Tennis tidak hanya mengandalkan penyewaan lapangan, tetapi juga mengembangkan sumber pendapatan lain seperti pelatihan, turnamen, hingga layanan kebugaran dan pemulihan. Hingga 2025, perusahaan telah menyelenggarakan 687 turnamen, termasuk Liga.Tennis Open dan World Pickleball Championship, yang turut memperkuat engagement komunitas.
Pendekatan berbasis komunitas tersebut berkontribusi langsung terhadap kinerja keuangan. Dalam periode 2024–2025, perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 35 persen, dengan margin laba bersih mencapai 31 persen dan lonjakan laba bersih 105 persen secara tahunan.
Secara global, tren pertumbuhan olahraga raket juga terus berlanjut. Tenis tetap menjadi salah satu olahraga paling populer, sementara padel berkembang pesat dengan Asia Tenggara sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru. Pickleball menunjukkan ekspansi signifikan di berbagai kawasan, disertai peningkatan adopsi squash di sejumlah negara. Di Indonesia, Bali menjadi salah satu pusat pertumbuhan yang didukung faktor demografi, ekonomi, dan pariwisata.
“Kami melihat olahraga raket akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan kebutuhan akan ruang sosial yang berkualitas. Dengan fundamental tersebut, kami optimistis ekosistem ini akan menjadi salah satu sektor olahraga dengan pertumbuhan paling dinamis dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Dima.
Ke depan, Liga.Tennis membuka peluang kolaborasi dengan investor untuk memperluas jaringan bisnis. Perusahaan menargetkan tingkat pengembalian investasi sebesar 25–35 persen per tahun, dengan rencana ekspansi hingga 77 klub dalam satu dekade serta penetrasi ke pasar Asia Tenggara, didukung oleh platform digital yang telah memiliki hampir 100.000 pengguna.
