Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ini Penyebab Lonjakan Pendapatan Hartadinata Abadi Capai Rp44,5 T
Kinerja emiten produsen emas perhiasan dan emas batangan PT Hartadinata Abadi naik signifikan pada 2024.
  • Hartadinata Abadi mencatat pendapatan tertinggi sepanjang sejarah pada 2025.

  • Kenaikan kinerja didorong peningkatan volume penjualan, penguatan harga emas, serta kontribusi kuat dari segmen institusi seperti Bullion Bank dan jaringan ritel perusahaan.

  • HRTA tetap fokus memperkuat ekosistem emas terintegrasi serta menuntaskan sertifikasi LBMA untuk standar global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah pada 2025.

Emiten emas ini membukukan pendapatan Rp44,55 triliun atau melonjak 144,39 persen secara tahunan (year on year/yoy), dibandingkan Rp18,23 triliun pada tahun sebelumnya.

Lonjakan pendapatan tersebut turut diikuti peningkatan laba bersih yang signifikan. Hingga akhir 2025, laba bersih HRTA mencapai Rp978,49 miliar, naik 121,29 persen (yoy) dari Rp442,18 miliar.

Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, menyebut capaian tersebut ditopang oleh sejumlah faktor kunci.

“Kinerja HRTA hingga akhir tahun 2025 menunjukkan hasil yang sangat positif dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang signifikan,” kata dia dalam keterangan resmi, Jumat (27/3).

Menurutnya, ada tiga pendorong utama di balik lonjakan ini, yakni peningkatan volume penjualan, penguatan harga emas, serta kontribusi yang semakin solid dari segmen institusi—terutama Bullion Bank—dan jaringan ritel perseroan.

Dari sisi struktur bisnis, segmen grosir menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi 87,57 persen terhadap total penjualan. Di dalamnya, Bullion Bank menyumbang porsi dominan sebesar 71,22 persen. Sementara itu, segmen ritel berkontribusi 11,68 persen dan gadai 0,32 persen.

Di tengah kinerja gemilang tersebut, HRTA tetap menghadapi tantangan dari fluktuasi harga emas global. Pada pekan ini, harga emas sempat mengalami tekanan jual dan menyentuh level US$4.100 per troy ounce pada 23 Maret 2026.

Pelemahan ini dipicu kombinasi faktor makroekonomi dan likuiditas jangka pendek. Ketegangan geopolitik, khususnya gangguan pasokan minyak, membuat negara-negara pengimpor energi memilih menggunakan cadangan devisa untuk kebutuhan impor ketimbang menambah cadangan emas.

Di sisi lain, tekanan fiskal di negara eksportir energi juga mendorong potensi penjualan emas dalam jangka pendek. Kondisi ini berdampak pada menurunnya permintaan dari bank sentral, serta aksi likuidasi oleh investor ritel di pasar utama seperti India dan Cina untuk menutup kenaikan biaya hidup akibat inflasi.

Faktor eksternal lain turut memperkuat tekanan tersebut, mulai dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, hingga ekspektasi penundaan penurunan suku bunga oleh Fed. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai karena tidak memberikan imbal hasil berkala.

Selain itu, aksi ambil untung (profit taking) oleh investor institusi, rotasi dana ke pasar saham global, serta likuidasi di pasar berjangka turut mempercepat koreksi harga emas dalam jangka pendek.

Meski menghadapi tekanan jangka pendek, prospek emas dalam jangka panjang dinilai tetap positif. Konsensus analis global masih memperkirakan harga emas akan melanjutkan tren kenaikan pada 2026, didukung oleh pembelian bank sentral dan ketidakpastian geopolitik yang berlanjut.

Sejalan dengan itu, HRTA terus memperkuat posisinya di industri. Perseroan saat ini tengah dalam tahap finalisasi sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA), sebagai bagian dari upaya memenuhi standar global dalam kualitas dan tata kelola.

Ke depan, perusahaan akan berfokus pada penguatan ekosistem emas terintegrasi, peningkatan ekuitas merek, optimalisasi jaringan distribusi, serta inovasi produk.

Editorial Team