Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Jelang Libur Lebaran, IHSG Diproyeksikan Melaju Terbatas Relatif Merah
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada Kamis (12/3), setelah ditutup melemah 0,69 persen ke level 7.389,4.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, di tengah meningkatnya ketidakpastian global terkait konflik Amerika Serikat (AS)–Israel vs Iran serta mendekati libur panjang Lebaran, pelaku pasar cenderung mengadopsi strategi trading jangka pendek dan menahan ekspansi risiko.

"Secara teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan masih terbatas dengan kecenderungan melemah, dengan support pada 7.335–7.200 dan resisten di 7.440–7.500," kata Reza dalam riset hariannya.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini, meliputi: ULTJ, UNVR, dan SCMA.

Kemarin, penguatan pada sesi pertama tidak mampu dipertahankan, sehingga indeks berbalik terkoreksi dan bergerak di zona negatif sepanjang sesi kedua. Dari sisi teknikal, IHSG masih tertahan di bawah level psikologis dan disertai aksi jual asing senilai Rp730 miliar, yang mengindikasikan tekanan distribusi investor asing.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, IHSG berada dalam fase bearish consolidation. Hal itu didukung stochastics K_D and RSI yang menunjukkan sinyal negatif, sementara volume menurun.

Ia menyebut, pasar masih bersikap hati-hati mengingat konflik Iran masih terus berlangsung tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan Presiden Trump telah mengancam akan meningkatkan serangan AS terhadap Iran setelah laporan CNN meyebutkan bahwa Teheran telah menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Hal tersebut membuat harga minyak dunia menguat dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan jalur energi di Selat Hormuz.

"Di sisi lain, data-data inflasi AS terbaru naik 0,3 persen (MoM) dan 2,4 persen (YoY) sehingga membuat The Fed lebih prudent dalam menerapkan kebijakan pemangkasan suku bunga," kata Nafan dalam risetnya.

Dinamika tersebut membuat kebijakan moneter BI menjadi lebih dilematis karena tekanan harga energi global membuat potensi kenaikan subsidi energi dan tekanan pada APBN, serta meningkatnya resiko inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Saham-saham pilihan Mirae pada perdagangan hari ini, yakni: ELSA, MEDC, dan SOCI.

Editorial Team