Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

PT Timah (TINS) Kantongi Laba Bersih Rp1,31 triliun Seiring Naiknya Harga Jual

PT Timah (TINS) Kantongi Laba Bersih Rp1,31 triliun Seiring Naiknya Harga Jual
PT Timah Tbk
Intinya Sih
  • PT Timah Tbk mencatat laba bersih Rp1,31 triliun pada 2025, naik berkat harga jual logam timah yang meningkat dan pendapatan mencapai Rp11,55 triliun.
  • Produksi bijih dan logam timah turun masing-masing empat dan enam persen akibat maraknya tambang ilegal serta penolakan masyarakat terhadap pembukaan tambang baru.
  • Tahun 2026, PT Timah fokus memulihkan kapasitas produksi lewat optimalisasi tambang darat dan laut serta peningkatan efektivitas pengolahan melalui fasilitas KIP dan PIP.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - PT Timah Tbk (TINS) mengakhiri 2025 dengan perolehan laba dan pendapatan yang solid, di tengah kenaikan harga jual rata-rata logam timah.

Direktur Utama PT Timah Tbk, Restu Widiyantoro mengatakan perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun, meningkat 6,41 persen. Beban pokok pendapatan naik 8,41 persen dari Rp8,11 triliun menjadi Rp8,79 triliun. Sementara EBITDA mencapai Rp2,76 triliun.

"Pada 2025 PT Timah membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119 persen dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Kami fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4).

Sejalan dengan itu, TINS membukukan kenaikan asset sebesar 6,75 persen menjadi Rp13,64 triliun, akibat peningkatan piutang usaha yang belum jatuh tempo. Sedangkan posisi liabilitas sebesar Rp5,23 triliun, relatif sama dibandingkan 2024 yang sebesar Rp5,19 triliun.

Restu menjelaskan bahwa perseroan berupaya melakukan efisiendi dan optimalisasi biaya dalam bentuk fixed cost melalui pengeluaran investasi yang selektif, dan menjaga arus kas.

Perseroan juga melakukan penurunan interest bearing debt sebagai bagian dari strategi pengelolaan liabilitas. Langkah ini ditempuh untuk menekan beban bunga, salah satunya melalui aksi buyback atas Medium Term Notes (MTN).

Dari sisi operasional, pada tahun lalu TINS mencatat produksi bijih timah 18.635 ton, turun empat persen secara tahunan. Restu menjelaskan penurunan disebabkan maraknya aktivitas penambangan ilegal, terutama di wilayah pesisir melalui Ponton Isap Produksi (PIP), serta penolakan masyarakat terhadap pembukaan lokasi tambang baru.

Seiring dengan itu, produksi logam timah juga terkontraksi enam persen menjadi 17.815 metrik ton. Hal ini mendorong penurunan pada penjualan, yang mana volume logam timah yang terjual menyusut lima persen menjadi 16.634 metrik ton.

Di sisi lain, harga jual rata-rata logam timah sebesar USD35.240 per metrik ton, naik 13 persen secara tahunan. Di topang tingginya harga jual ini, TINS mampu membukukan penjualan yang solid. TINS mencatat penjualan logam timah domestik berkontribusi lima persen, sementara ekspor 95 persen.

Strategi Menghadapi 2026

Untuk mempertahankan kinerja positif pada 2026, TINS akan fokus pada pemulihan kapasitas produksi. Restu menjelaskan, pada penambangan darat perseroan akan meningkatkan jumlah titik operasi tambang. Sedangkan pada penambangan laut, TINS berencara melakukan optimalisasi melalui Kapal Isap Produksi (KIP) serta peningkatan efektivitas proses pengolahan melalui fasilitas SHP KIP dan PIP.

"TINS mengoperasikan satu unit kapal bor pandu di beberapa area produksi utama guna meningkatkan confidence level terhadap potensi sumber daya serta mendukung pengambilan keputusan operasional yang lebih akurat berbasis data," ujarnya.

Restu mengatakan, berdasarkan data Bloomberg per 12 Maret 2026, harga timah tahun ini diperkirakan berada di kisaran US$33.500–48.750 per ton. Permintaan diproyeksikan menguat seiring pemulihan manufaktur elektronik, sementara pasokan tetap ketat akibat kendala di negara produsen utama seperti Indonesia dan Myanmar.

Sementara itu, World Bank memperkirakan harga rata-rata timah 2026 sekitar USD34.000 per ton, didorong aktivitas manufaktur elektronik. Namun dari sisi fundamental, pengetatan pasar berpotensi terjadi akibat regulasi, konflik dan pemeliharaan peroduksi.

Share
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .
Follow Us

Related Articles

See More