Penurunan saham BBCA sejalan dengan pelemahan saham perbankan besar lainnya.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat turun 2,81 persen ke Rp4.500 dengan NFS Rp655 miliar. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,85 persen ke Rp3.070 dengan NFS Rp447,3 miliar.
Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menjelaskan tekanan tersebut dipicu oleh faktor makro ekonomi dan sentimen global. Ia menilai investor asing tengah melakukan penyesuaian portofolio terhadap risiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
"Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA," ujar Jonathan dalam keterangannya, dikutip Senin (27/4).
Faktor geopolitik juga menjadi salah satu pemicu utama, terutama konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang belum mereda. Kondisi ini mendorong harga energi tetap tinggi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, yang pada akhirnya memengaruhi aliran modal.
"Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat," sambungnya.
Selain itu, perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta evaluasi MSCI terhadap pasar saham domestik turut memicu keluarnya dana asing dari pasar.