Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Amerika Serikat Turun Tangan Berantas Pusat Penipuan di ASEAN
fbi.gov
  • FBI memperkuat operasi lintas-negara di Asia Tenggara untuk memberantas jaringan penipuan transnasional.

  • Kerja sama operasional FBI dengan kepolisian Thailand, Kamboja, dan Vietnam mencakup pembentukan satgas gabungan, pertukaran intelijen, serta investigasi langsung terhadap kompleks penipuan berskala besar.

  • FBI menyoroti peningkatan modus “pig butchering” berbasis kripto.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Upaya penindakan kejahatan siber lintas negara di Asia Tenggara berjalan makin intensif. Biro Investigasi Federal AS (FBI) kini memburu sindikat kejahatan terorganisir, terutama asal Cina, yang menjalankan penipuan transnasional berskala raksasa di kawasan ASEAN untuk menguras uang korban.

Skala operasi sindikat ini jauh melampaui kejahatan siber konvensional. Deputy Assistant Director International Operations Division FBI, Scott Schelble, menyoroti ancaman tersebut usai lawatannya ke Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Ia menyebut jaringan ini sebagai entitas bisnis ilegal yang secara sistematis menargetkan warga AS setiap harinya.

“Ini bukan kejahatan kecil atau terisolasi. Ini perusahaan kriminal yang canggih dan memiliki sumber daya besar, yang mengeksploitasi perbatasan, teknologi, dan orang-orang rentan untuk meraup keuntungan luar biasa,” kata Schelble, dikutip dari laman resmi Departemen Luar Negeri AS, Selasa (3/3).

Keuntungan tersebut utamanya didorong oleh lonjakan modus pig butchering. Penipuan investasi jangka panjang ini menjerat korban melalui pendekatan emosional via aplikasi kencan, media sosial, atau pesan teks. Begitu kepercayaan terbentuk, korban digiring untuk menanamkan modal pada platform aset kripto palsu, yang berujung pada kerugian finansial besar dan terkait erat dengan jaringan pencucian uang global.

Skala kejahatan ini jauh lebih kompleks dari sekadar operasi call center gelap. Schelble, yang meninjau langsung kompleks penipuan raksasa tersebut, menegaskan realitas di lapangan sangat mengejutkan.

“Sulit memahami besarnya ancaman ini sampai melihatnya dengan mata kepala sendiri,” katanya.

Di balik operasi bernilai jutaan dolar ini, terdapat krisis kemanusiaan. Para pelaku tidak hanya menguras tabungan hidup investor AS, tetapi juga mengeksploitasi individu yang diperdagangkan secara paksa untuk mengoperasikan mesin penipuan tersebut.

Pusat-pusat penipuan ini beroperasi tanpa mengenal batas negara, dengan kompleks serupa tersebar di Thailand, Kamboja, Vietnam, hingga Malaysia.

“Mereka beroperasi dengan tingkat impunitas tertentu karena memanfaatkan perbedaan hukum antarnegara,” ujar Schelble. “Jika sindikat ini mengeksploitasi perbatasan, kita harus merespons dengan koordinasi global yang terintegrasi.”

Sebagai respons, kemitraan antara FBI dan Kepolisian Kerajaan Thailand kini telah berevolusi menjadi kerja sama operasional yang mendalam. Satuan tugas gabungan dan pertukaran data intelijen secara intensif telah membuahkan hasil konkret dalam mengidentifikasi korban, memutus rantai operasional kriminal, serta melacak aliran dana gelap.

Langkah serupa juga ditempuh FBI melalui dialog tingkat tinggi dengan kepolisian nasional Kamboja.

Menepis kekhawatiran bahwa para penipu sekadar memindahkan basis operasinya, Schelble menegaskan fokus lembaga tersebut adalah mempersempit ruang gerak sindikat secara menyeluruh. Selain penindakan hukum, FBI juga gencar melakukan edukasi pencegahan melalui kampanye public service announcement.

“Tidak ada lokasi spesifik. Ini masalah regional yang membutuhkan solusi regional. Setiap negara harus tanpa henti mengejar para penjahat ini,” katanya.

Editorial Team