Jakarta, FORTUNE - Presiden Prabowo Subianto menetapkan arah kebijakan fiskal 2027 dengan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tetap ekspansif. Dalam Rancangan APBN (RAPBN) 2027, pemerintah merencanakan belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun. Nilai ini meningkat dibandingkan dengan pagu APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun.
Prabowo menyampaikan rancangan tersebut dalam Pidato Pengantar Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen, Jakarta, pekan lalu.
"Arsitektur RAPBN tahun 2027 didesain tetap ekspansif. Secara kolaboratif, terarah dan terukur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat," kata Prabowo.
Dari sisi penerimaan, pemerintah memperkirakan pendapatan negara pada 2027 mencapai Rp3.426 triliun. Angka tersebut tumbuh dari target pendapatan negara dalam APBN 2026 yang sebesar Rp3.153,6 triliun.
Dengan postur tersebut, pembiayaan RAPBN 2027 direncanakan Rp671,2 triliun. Sementara itu, defisit anggaran ditargetkan menyusut menjadi 2,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan rencana defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen atau Rp689,1 triliun.
Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menekan defisit anggaran.
"Kita memahami bahwa defisit yang ideal adalah sekecil-kecilnya, bahkan cita-cita kita adalah anggaran yang berimbang," ujarnya.
Sejalan dengan ekspansi fiskal, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen. Sasaran ini naik dari target pertumbuhan ekonomi pada APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Sejumlah asumsi makroekonomi juga telah ditetapkan:
Inflasi: dijaga pada kisaran 2,5 persen.
Suku bunga SBN 10 Tahun: diproyeksikan 6,9 persen.
Nilai tukar rupiah: Rp17.500 per dolar AS.
Harga minyak mentah (ICP): US$75 per barel.
Lifting minyak: 610.000 barel per hari.
Lifting gas: 954.000 barel setara minyak per hari.
Pemerintah berharap kombinasi pertumbuhan ekonomi dan efektivitas belanja dapat memicu perbaikan kualitas hidup masyarakat:
Tingkat kemiskinan: ditargetkan turun ke rentang 6-6,5 persen (dibandingkan dengan target APBN 2026 sebesar 6,5-7,5 persen).
Tingkat pengangguran terbuka: diproyeksikan membaik ke 4,30-4,87 persen (dibandingkan dengan target 2026 sebesar 4,44-4,96 persen).
Rasio gini: membaik ke kisaran 0,362-0,367 (dibandingkan dengan target tahun ini 0,370-0,380).
Indeks modal manusia: ditargetkan meningkat menjadi 0,575.
Prabowo mengungkapkan bahwa RAPBN 2027 difokuskan untuk menopang delapan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), meliputi:
Kedaulatan pangan
Kemandirian energi dan air
Pendidikan
Kesehatan
Hilirisasi dan industrialisasi
Infrastruktur, perumahan, dan ketahanan terhadap bencana
Penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa
Penurunan kemiskinan
Delapan prioritas tersebut diperkuat agenda pendukung seperti pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, serta diplomasi ekonomi.
Pemerintah juga menekankan transformasi ekonomi menuju aktivitas bernilai tambah tinggi, penguatan perlindungan sosial, pemberdayaan UMKM, serta dukungan bagi petani, nelayan, guru, dan pekerja rentan.
Untuk menopang seluruh program, Prabowo menggarisbawahi pentingnya efisiensi belanja dan penguatan penerimaan.
"Pendapatan negara kita dorong lebih optimal. Kebocoran penerimaan harus diminimalisasi. Efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan," kata Prabowo.