Jakarta, FORTUNE - Wakil Menteri Keuangan Nurkholisoh Ibnu Aman mengatakan bahwa bea cukai untuk menyeimbangkan antara menghentikan penyelundupan dan perdagangan ilegal sekaligus melakukannya tanpa menunda bisnis. Pasalnya, lebih dari 71,6 persen impor adalah bahan utama untuk mendukung produksi domestik.
Menurutnya, perbatasan menjadi salah satu bagian dari produksi sehingga administrasi dari Bea Cukai menjadi penting.
“Ini alasan administrasi bea cukai sangat penting, karena bea cukai berada di persimpangan antara kebijakan fiskal, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan masyarakat,” ujarnya dalam agenda 6th WCO RTC Indonesia International Conference secara daring, Selasa (20/10).
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia Januari–Agustus 2026 mencapai US$186,39 miliar atau naik 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sejalan dengan total impor, nilai impor nonmigas naik 16,83 persen menjadi US$157,09 miliar. Sementara pada Agustus 2026, impor mencapai US$23,06 miliar, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian juga dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi US$19,53 miliar.
Nurkholisoh memberikan gambaran bahwa ketepatan waktu menjadi aspek yang penting bagi usaha yang ingin menjual produk ke luar negeri. Bagi mereka, satu pengiriman yang terlambat dapat menyebabkan hilangnya seorang pelanggan bahkan hilangnya peluang bisnis.
Dengan demikian, hambatan non tarif harus menjadi prioritas dari pemerintah. Menurutnya, standar kualitas, keselamatan, dan kesehatan diperlukan untuk melindungi masyarakat. Namun, standar tersebut perlu diterapkan secara konsisten.
Menurutnya, ancaman terhadap rantai pasok bisa datang dari setiap bagian dari proses. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menemukan metode baru untuk menghadapi tantangan yang baru salah satunya menggunakan artificial intelligence (AI).
“AI dapat membantu untuk mengidentifikasi misalnya sebelum pengiriman yang mencurigakan lebih awal sebelum barang tersebut sampai. Teknologi mampu membantu memusatkan perhatian. Namun, teknologi hanyalah sebuah enabler bukan pengganti manusia,” ujar Nurkholisoh.
