Comscore Tracker
NEWS

Menko Airlangga: Penyediaan Minyak Nabati Global Harus Holistik

Memastikan pasokan minyak nabati global jadi penting.

Menko Airlangga: Penyediaan Minyak Nabati Global Harus HolistikMenteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan terkait langkah pemerintah dalam penanganan wabah PMK di Istana Negara, Kamis (23/6).

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan pemerintah tetap mengupayakan transformasi perekonomian yang hijau, berkelanjutan, dan inklusif. Hal itu beriringan dengan langkah pemulihan ekonomi dari ancaman krisis pangan, energi dan keuangan yang terjadi di level global. 

"Di tengah krisis ini, memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan keterjangkauan komoditas pertanian di pasar global, termasuk minyak nabati, menjadi salah satu fokus utama kami," ujarnya pada Webinar United Nations Economic And Social Council (UN-ECOSOC) High Level Political Forum (HLPF) yang dikutip dari siaran pers, Selasa (12/7). 

Airlangga menambahkan bahwa dalam upaya untuk memenuhi target SDGs 2030, muncul beberapa tantangan besar seperti inflasi yang tinggi, lonjakan suku bunga, lonjakan harga pangan dan energi, serta terganggunya pasokan dan perdagangan komoditas pertanian.

Dengan mempertimbangkan pertumbuhan populasi global dan meluasnya penggunaan minyak nabati di berbagai industri, maka diperkirakan ukuran pasar global minyak nabati akan meningkat dari 199,1 juta metrik ton pada 2020 menjadi 258,4 juta metrik ton pada 2026.

Penting untuk pastikan pasokan minyak nabati

Bahkan sebelum terjadinya krisis global, minyak nabati telah menjadi sumber mata pencaharian bagi petani skala kecil serta sumber mesin pembangunan di banyak negara berkembang. Sehingga, penting untuk memastikan kesinambungan pasokan minyak nabati yang cukup ke pasar global. Hal ini untuk mencegah volatilitas harga lebih lanjut dan guncangan terhadap perekonomian global.

"Dalam hal ini, kami terus percaya bahwa upaya bersama untuk memastikan keberlanjutan di pasar minyak nabati global harus dilakukan secara holistik dan nondiskriminatif," kata Airlangga.

Selain itu, diperlukan juga lingkungan yang kondusif serta penyediaan sumber daya dan keterampilan untuk mendukung petani kecil dalam mewujudkan produksi berkelanjutan atas komoditas yang digunakan untuk menghasilkan minyak nabati.

Sebagai salah satu produsen dan pengekspor minyak nabati utama dunia, termasuk minyak sawit dan minyak kelapa, Indonesia terus menekankan pentingnya memastikan keberlanjutan di seluruh sektor minyak nabati.

Dorong transisi kebijakan biodiesel

Hal tersebut dilakukan di antaranya melalui pemanfaatan smart farming pada perkebunan kelapa maupun dukungan replanting bagi petani sawit.

Indonesia, kata Airlangga, juga berkomitmen untuk mempercepat transisi energi bersih melalui kebijakan biodiesel untuk mencapai net zero emissions. Diperkirakan penggunaan B30 berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 24,6 juta ton setara karbon.

Hal ini juga akan memperkuat tujuan Indonesia untuk mencapai target ketahanan energi dan bauran energi sebesar 23 persen pada 2025. Indonesia juga akan terus mempromosikan pentingnya pertanian dan sistem pangan berkelanjutan di berbagai forum, termasuk melalui Presidensi G20 dan kerja sama dengan Inggris melalui co-chairmanship dari dialog FACT (Forest, Agriculture, and Commodities Trade).

Indonesia pun bertujuan untuk mempromosikan komoditas berkelanjutan sekaligus memenuhi SDGs dan mendukung pembangunan ekonomi.

Selain itu, Indonesia juga berkomitmen untuk mendorong dan menyinergikan kerja sama untuk memastikan minyak nabati berkelanjutan di berbagai organisasi internasional terkait seperti Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dan International Coconut Community (ICC). 

"Mari kita melipatgandakan upaya kita untuk mencapai SDGs, dan menetapkan jalan kita menuju komunitas global yang lebih tangguh, termasuk melalui promosi dan pengembangan minyak nabati yang berkelanjutan," kata Airlangga.

Related Articles