NEWS

Dampak Perekonomian Indonesia Akibat Perang Rusia-Ukraina

Dampaknya bisa dirasakan dari sisi perdagangan dan keuangan.

Dampak Perekonomian Indonesia Akibat Perang Rusia-UkrainaPixabay/Wikilimages
02 March 2022

Jakarta, FORTUNE – Asisten Peneliti Departemen Ekonomi Sosial Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS), Lestary J. Barany, mengatakan operasi militer yang diluncurkan Rusia ke Ukraina bakal berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia.

Kendati kedua negara tersebut bukan mitra utama, Lestary menyebut perdagangan dan keuangan Indonesia akan menerima efeknya. 

Dalam sebuah diskusi daring (2/3), Lestary mengatakan buntut perang di Eropa itu sejauh ini belum signifikan bagi nilai tukar rupiah. Hari ini, mata uang Indonesia itu melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan pada Rp14.372 (spot) atau lebih rendah 0,26 persen jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin.

Lestary mengatakan dampak lain adalah di sektor perdagangan karena, misalnya, Indonesia sepenuhnya mengimpor gandum. Pada 2021, salah satu eksportir gandum terbesar Indonesia adalah Ukraina pada 2,76 juta ton (25,68 persen) dengan nilai US$821 juta.

Ketergantungan gandum dari Ukraina itu mengancam keterbatasan bahan baku pangan untuk pembuatan mi dan roti yang semakin nyata.

“(Ukraina) adalah top supplier untuk gandum Indonesia. Dan kalau kita melihat peta, ternyata lumbung gandum itu banyak di daerah Timur, di mana daerah ini merupakan daerah yang sangat dekat dengan yang diduduki oleh Rusia,” ujarnya.

Harga komoditas akan dorong inflasi

Efek lain dari perang Rusia dan Ukraina adalah naiknya harga-harga komoditas. Lestary menjelaskan hal ini mendorong tingginya laju inflasi Indonesia pada April atau menjelang Ramadan. Lonjakan harga komoditas membuat ongkos produksi yang berasal dari impor melambung.

Pertamina, misalnya, kembali meningkatkan harga jual LPG non-subsidi pada 27 Februari akibat pengaruh kenaikan tarif acuan contract price Aramco. Padahal harga gas sudah mengalami penyesuaian pada Desember 2021.

Menyusul LPG, ada kemungkinan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax, Pertalite, hingga tarif dasar listrik merangkak naik dalam waktu dekat. “Jadi dalam jangka menengah ini juga akan kembali lagi memberikan tekanan untuk perekonomian di Indonesia,” ujarnya.

Bakal ada koreksi pertumbuhan ekonomi global

Perang tersebut pun akan berdampak terhadap perekonomian global. Penelitian Oxford Economics menunjukkan bahwa krisis Ukraina dan Rusia ini diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global, yakni sekitar 0,2 persen. 

Ambil misal sektor energi. Eropa merupakan konsumen utama gas yang disalurkan dari Rusia. Jadi, jika konflik berlanjut, proyeksi pertumbuhan minus tersebut akan benar-benar terjadi.

“Jadi, kita bisa melihat bahwa ada tekanannya juga pada ekonomi global,” ujarnya.

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.