NEWS

Dibayangi Resesi, Harga Minyak Jatuh ke Bawah US$85 per Barel

Kenaikan suku bunga The Fed tekan harga minyak global.

Dibayangi Resesi, Harga Minyak Jatuh ke Bawah US$85 per BarelSalah satu kilang minyak di Blok Masela. (petroenergy)

by Hendra Friana

27 September 2022

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Harga minyak tergelincir sekitar U$2 per barel dan bertengger di posisi terendah dalam sembilan bulan terakhir pada akhir perdagangan Senin sore (26/9) waktu setempat. 

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November merosot US$2,09 per barel atau 2,4 persen, menjadi menetap US$84,06 per barel di London ICE Futures Exchange—turun ke bawah level terendahnya di 14 Januari lalu.

Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November terpangkas US$2,03 AS per barel atau 2,6 persen menjadi US$76,71 per barel di New York Mercantile Exchange, dan merupakan level terendah sejak 6 Januari 2022.

Pergerakan minyak kemarin dipengaruhi momentum penguatan dolar AS yang masih berlanjut setelah Federal Reserve memberlakukan kenaikan suku bunga tiga perempat poin untuk ketiga kalinya secara berturut-turut pekan lalu. 

Pada akhir perdagangan Senin (26/9), Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, melonjak 0,81 persen menjadi 114,1030. 

Indeks dolar yang mencapai level tertinggi baru selama dua dekade itu menekan permintaan minyak yang dihargai dalam mata uang AS. Data Refinitiv Eikon menunjukkan, dampak penguatan dolar terhadap harga minyak ini merupakan yang paling menonjol dalam setahun terakhir.

Secara historis, gerak harga minyak memang selalu berkebalikan dengan dolar AS. "Sulit bagi siapa pun untuk mengharapkan minyak akan pulih setelah greenback semahal ini," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho seperti dikutip Reuters.

Pertemuan OPEC +

Sebelumnya, perang Rusia-Ukraina disebut akan memperparah gejolak pada pasar minyak global. Sanksi Uni Eropa berupa larangan minyak mentah Rusia akan dimulai pada Desember mendatang—bersama dengan rencana oleh negara-negara G7 untuk pembatasan harga minyak Rusia—dinilai akan memperketat pasokan dan membuat harga melambung.

Namun, kenaikan suku bunga oleh bank sentral di banyak negara importir minyak telah menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan minyak.

"Dengan semakin banyak bank sentral dipaksa untuk mengambil langkah-langkah luar biasa tidak peduli biaya ekonomi, permintaan akan terpukul yang dapat membantu menyeimbangkan kembali pasar minyak," kata Craig Erlam, analis pasar senior di Oanda di London.

Kini, perhatian pasar beralih pada rencana Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya alias OPEC +, yang dipimpin oleh Rusia, untuk bertemu pada 5 Oktober. Pada pertemuan sebelumnya, mereka telah sepakat untuk memangkas produksi secara moderat.

Namun, OPEC+ berproduksi jauh di bawah produksi yang ditargetkan, yang berarti tak akan ada pemotongan lebih lanjut dan tidak berdampak banyak pada pasokan. "Peluang akan muncul cukup tinggi untuk penyesuaian produksi yang turun oleh organisasi OPEC +," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.