Jakarta, FORTUNE - PT Hutama Karya (Persero) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025, dengan kontribusi terbesar berasal dari bisnis jalan tol.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah melewati proses audit, pendapatan dari segmen pengoperasian jalan tol mencapai Rp17,33 triliun, atau setara 68,9 persen dari total pendapatan eksternal perusahaan yang mencapai Rp25,13 triliun.
Kinerja tersebut menjadikan jalan tol sebagai motor utama pertumbuhan Hutama Karya, dengan laju kenaikan mencapai 26,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy)—tertinggi dibandingkan segmen bisnis lainnya.
Direktur Utama Hutama Karya, Koentjoro, menyebut capaian ini sebagai hasil dari transformasi menyeluruh yang dijalankan secara konsisten.
“Pertumbuhan yang kami catatkan selalu berbasis ekspansi dengan mitigasi risiko. Ini adalah pertumbuhan yang dijaga kualitasnya. Laba bertumbuh, utang turun, ekuitas menguat,” kata dia dalam keterangan resmi, Kamis (16/4).
Secara keseluruhan, Hutama Karya membukukan laba bersih Rp3,09 triliun pada 2025, tumbuh 11,6 persen secara tahunan.
Laba usaha tercatat Rp2,74 triliun, naik 10,2 persen secara tahunan. Sementara itu, beban keuangan berhasil ditekan signifikan dari Rp1,64 triliun menjadi Rp1,24 triliun, atau turun 24,5 persen dalam setahun.
Pada saat bersamaan, total liabilitas perusahaan menyusut 17,4 persen dari Rp58,04 triliun menjadi Rp47,92 triliun.
Dari sisi neraca, ekuitas perusahaan meningkat menjadi Rp141,18 triliun atau tumbuh 2,3 persen secara tahunan. Penguatan ini terjadi tanpa tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) baru sepanjang 2025.
Total aset konsolidasi tercatat mencapai Rp189,10 triliun per 31 Desember 2025.
Penguatan bisnis jalan tol tidak dapat dilepaskan dari berlanjutnya pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Salah satu progres penting adalah mulai beroperasinya secara komersial ruas Betung–Tempino–Jambi Seksi 4 pada September 2025.
Selain itu, Hutama Karya juga aktif memperluas skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) guna memperkuat portofolio jangka panjang.
Pada 2025, perusahaan meneken proyek KPBU Flyover Panorama I Sitinjau Lauik di Sumatera Barat senilai Rp2,7 triliun. Pada 2024, Hutama Karya memenangkan proyek KPBU Trans Papua Jayapura–Wamena dengan nilai investasi Rp3,3 triliun.
“Perusahaan yang lahir dari semangat membangun republik ini masih relevan, masih produktif, dan masih dipercaya untuk mengemban tugas-tugas terbesar bangsa,” kata Koentjoro.
