Jakarta, FORTUNE -Pemerintah Amerika Serikat tengah mengkaji opsi militer baru terhadap Iran setelah upaya diplomasi yang dimediasi di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. Situasi ini menandai eskalasi terbaru di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Melansir The Wall Street Journal, Presiden Donald Trump bersama para penasihatnya sedang mempertimbangkan langkah serangan terbatas sebagai respons atas mandeknya perundingan damai. Opsi tersebut muncul di luar rencana sebelumnya, termasuk skenario blokade jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
Kebuntuan terjadi setelah perundingan selama sekitar 21 jam di Islamabad tidak menghasilkan titik temu antara kedua pihak. Delegasi yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dilaporkan telah meninggalkan Pakistan tanpa membawa kesepakatan, memperlebar jurang perbedaan antara Washington dan Teheran.
Mengutip The Guardian, dalam pernyataannya, Trump membuka kemungkinan target serangan terhadap infrastruktur vital Iran jika ketegangan terus meningkat. “Saya sebenarnya tidak ingin melakukannya,” katanya, sambil menegaskan bahwa semua opsi masih tersedia.
Sejumlah penasihat menilai tekanan tambahan, termasuk pembatasan akses kapal di jalur strategis seperti Selat Hormuz, dapat menjadi cara untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Namun, langkah tersebut juga dinilai berisiko tinggi, mengingat potensi serangan balasan terhadap aset militer AS di kawasan.
Ketegangan terus meningkat seiring ancaman blokade dan opsi militer yang semakin terbuka. Pemerintah AS bahkan disebut telah menyiapkan langkah lanjutan untuk menjaga akses jalur energi global jika konflik meluas.
Meski pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup, situasi yang berkembang menunjukkan bahwa pendekatan militer kembali menjadi opsi yang semakin diperhitungkan, di tengah ketidakpastian arah hubungan kedua negara ke depan.
