Fitch Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,9% pada 2027-2028

Fitch Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat dalam jangka menengah, tetapi di bawah target pemerintah.
Proyeksi pertumbuhan 2027 dan 2028 naik menjadi 4,9 persen, sedangkan pertumbuhan 2026 diperkirakan 5,2 persen.
Tantangan utama meliputi reformasi struktural, stabilitas makroekonomi, tekanan rupiah, cadangan eksternal, dan sentimen investor.
Jakarta, FORTUNE - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memproyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia secara jangka menengah akan kuat, namun masih berada di bawah target pemerintah yakni 8 persen pada tahun 2029.
Dalam risetnya, Fitch Ratings meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,7 persen menjadi 4,9 persen untuk tahun 2027 dan 2028. Angka ini jauh di bawah proyeksi pemerintah yakni 6 persen.
Fitch memperkirakan bahwa akan menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mencapai targetnya sambil tetap mempertahankan stabilitas makroekonomi dan keuangan, tanpa adanya reformasi signifikan lebih lanjut dan penciptaan lapangan kerja berkualitas tinggi.
Menurut Fitch Ratings, reformasi struktural hanya akan memberikan dampak sedang terhadap produktivitas faktor total (total factor productivity) dan pendalaman modal (captal deepening) yang menjadi faktor penentu PDB potensial Indonesia.
"Kami telah menyoroti risiko meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan di tengah meningkatnya sentralisasi wewenang pembuatan kebijakan saat kami merevisi Prospek (Outlook) peringkat utang berdaulat (sovereign rating) Indonesia dari Stabil menjadi Negatif pada Maret 2026," ujar Fitch Ratings dalam risetnya, Rabu (21/10).
Perkembangan makroekonomi terkini menunjukkan adanya ketahanan meskipun di tengah kenaikan harga energi global. Pertumbuhan ekonomi naik menjadi 5,4 persen secara tahunan pada semester I 2026 dibandingkan 5,1 persen pada tahun 2025.
Untuk tahun 2026, Fitch memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2 persen yang dipengaruhi oleh momentum yang melambat pada semester II 2026.
"Kami memperkirakan dukungan fiskal akan memudar setelah belanja negara digelontorkan lebih awal (front-loaded) pada semester pertama 2026. Ekspor bersih juga akan mengurangi pertumbuhan," tulis riset tersebut.
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah dan cadangan eksternal meningkat tahun ini di tengah kekhawatiran atas kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal.
"Respons kebijakan yang cepat dalam mendukung rupiah serta penunjukan gubernur bank sentral yang baru dengan sigap berhasil meredakan tekanan tersebut, sementara anggaran tahun 2027 menunjukkan adanya keberlanjutan kebijakan dan mengurangi risiko pembengkakan belanja pemerintah," demikian laporan tersebut.
Fitch menyoroti bahwa perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah responsif terhadap kekhawatiran mengenai ketidakpastian dan kredibilitas kebijakan, namun sentimen investor yang rapuh serta intervensi valas yang berkelanjutan dapat semakin membebani cadangan eksternal.




















