Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

PTPN I Gelontorkan Rp26,76 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan

4 min read
PTPN I Gelontorkan Rp26,76 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan
Ilustrasi perkebunan karet/Dok. PTPN I
  • PTPN I menyiapkan investasi Rp26,76 triliun pada 2025–2029 untuk mengintegrasikan bisnis perkebunan dari hulu ke hilir, mendukung ketahanan pangan, energi, dan pertumbuhan ekonomi.
  • Dana Rp16,34 triliun dialokasikan bagi sektor hulu seluas 342.321 hektare, sedangkan Rp10,42 triliun untuk membangun 25 fasilitas pengolahan modern di wilayah strategis.
  • Pengembangan mencakup komoditas pangan dan perkebunan, termasuk jagung untuk bioetanol, serta kemitraan petani lokal; hingga awal Oktober 2026, areal karet mencapai 1.479 hektare dan jagung 1.125 hektare.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PTPN I (Persero) menyiapkan investasi Rp26,76 triliun untuk mengembangkan bisnis perkebunan dari hulu hingga hilir. Investasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Sebagai BUMN perkebunan dengan aset lahan dan komoditas sangat besar, PTPN I mengambil inisiatif dalam mendukung program Asta Cita secara sistematis, PTPN I melakukan investasi senilai Rp26,76 triliun," ujar Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, melansir Antara, Kamis (22/10).

Menurut Rivai, agenda ketahanan pangan dan energi yang menjadi prioritas pemerintah memiliki keterkaitan erat dengan kegiatan usaha PTPN I. Karena itu, perusahaan mengarahkan investasi untuk memperkuat berbagai lini bisnis, terutama peremajaan tanaman dan hilirisasi komoditas perkebunan.

"Investasi tersebut digunakan untuk memperkuat semua lini bisnis, terutama program tanam ulang komoditas, dan program hilirisasi komoditas perkebunan," ujarnya.

Ia menilai, bidang usaha PTPN I sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya swasembada pangan, ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Semua aspek itu melekat dengan operasional PTPN I,” kata Rivai.

PTPN I memiliki lahan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Aset tersebut diarahkan untuk mendukung swasembada pangan, baik melalui pengembangan komoditas yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan maupun pemanfaatan lahan yang belum produktif untuk tanaman semusim.

Komoditas yang dikembangkan mencakup tebu sebagai bahan baku gula, kelapa sawit untuk minyak goreng, serta kelapa. Perusahaan juga melihat peluang pemanfaatan lahan dan sumber daya yang dimiliki untuk memperluas pengembangan sektor pangan dan energi.

“Kami punya resources besar untuk ketahanan pangan, ketahanan energi, dan punya lahan luas untuk mendukung berbagai program hilirisasi bidang pangan," ujarnya.

Selain dukungan sumber daya lahan, Rivai mengatakan, operasional PTPN I juga memiliki karakter padat karya sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja. Jaringan unit kerja yang tersebar hingga pelosok daerah turut berpotensi menjadi penggerak ekonomi setempat.

"Sebaran unit kerja kami juga sangat luas dan berada di sejumlah pelosok. Bahkan, keberadaan unit kerja kami menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah yang sebelumnya terisolasi,” kata Rivai.

Ia menambahkan, keputusan investasi perusahaan didasarkan pada analisis data dan studi kelayakan yang mendalam. Pengalaman menjalankan bisnis berdampingan dengan masyarakat juga menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan agenda transformasi tersebut.

"Lebih dari itu, aspek pengalaman PTPN I menjalankan bisnis berdampingan harmonis dengan masyarakat juga menambah optimistis bahwa visi-misi ini akan berhasil," ucapnya.

Rencana investasi Rp26,76 triliun itu disusun dalam peta jalan selama empat tahun, mulai 2025 hingga 2029. Perusahaan membidik integrasi bisnis dari hulu ke hilir untuk berbagai komoditas, termasuk peluang pengembangan usaha di luar sektor agro.

Investasi tersebut mencakup pembangunan ekosistem usaha terintegrasi, mulai dari kegiatan budidaya (on-farm) hingga pengolahan hasil (off-farm). Sejumlah komoditas yang menjadi sasaran pengembangan antara lain jagung, kelapa, karet, kopi, kakao, jambu mete, pala, dan komoditas sekunder lainnya.

Salah satu rencana pengembangan yang tengah disiapkan adalah pemanfaatan jagung sebagai bahan baku bioetanol. Dengan demikian, komoditas tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga berpotensi mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Dari total investasi yang direncanakan, Rp16,34 triliun dialokasikan untuk sektor hulu dengan cakupan lahan perkebunan 342.321 hektare. Adapun Rp10,42 triliun lainnya disiapkan untuk membangun 25 fasilitas pengolahan modern di sejumlah wilayah strategis Indonesia.

Untuk menjaga efektivitas belanja modal, manajemen menetapkan studi kelayakan bisnis, integrasi rantai pasok hulu-hilir, dan kepastian pasar melalui pembeli siaga (off-taker) sebagai landasan pelaksanaan proyek. Pendekatan tersebut ditujukan agar investasi memiliki dasar bisnis yang terukur dan berkelanjutan.

Perusahaan juga merancang transformasi dengan melibatkan masyarakat, khususnya petani lokal dan pelaku usaha daerah. Kemitraan strategis serta skema perkebunan plasma menjadi bagian dari upaya menghubungkan petani dengan rantai pasok industri.

Hingga awal Oktober 2026, pengembangan areal karet PTPN I telah mencapai 1.479 hektare, sementara areal jagung tercatat 1.125 hektare. Secara keseluruhan, realisasi pengembangan on-farm komoditas unggulan diproyeksikan mencapai 11.516 hektare, atau sekitar 59–60 persen dari target tahunan hingga akhir 2026.

Melalui investasi tersebut, PTPN I menargetkan penguatan rantai nilai komoditas perkebunan sekaligus memperluas kontribusi perusahaan terhadap agenda pangan, energi, dan ekonomi daerah.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More