Jakarta, FORTUNE – Adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus berkembang, seiring dengan banyaknya perusahaan yang mulai mengintegrasikan AI ke dalam operasional bisnis sehari-hari. Perkembangan tersebut didukung semakin matangnya infrastruktur cloud serta percepatan transformasi digital di berbagai sektor, termasuk manufaktur melalui program Making Indonesia 4.0.
Meluasnya pemanfaatan AI, turut menghadirkan tantangan baru. Perusahaan kini tidak hanya dituntut mengembangkan teknologi, tetapi juga memastikan data dan sistem digital tetap aman. Kondisi ini membuat investasi pada keamanan cloud menjadi bagian penting dari strategi bisnis, bukan lagi sekadar kebutuhan departemen teknologi informasi.
Cloud Security Evangelist Gigamon, Steve Goudreault, mengatakan perusahaan perlu memiliki visibilitas menyeluruh terhadap seluruh ekosistem cloud yang digunakan agar tetap memiliki kendali atas data dan operasional.
"Ketika penggunaan AI semakin luas, perusahaan tidak cukup hanya mengetahui lokasi penyimpanan data. Mereka juga harus memahami bagaimana data bergerak, siapa yang mengaksesnya, dan memastikan seluruh aktivitas tersebut dapat dipantau," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7).
Bersamaan dengan perkembangan AI, perusahaan kini mengelola kombinasi infrastruktur yang semakin kompleks, mulai dari sistem lama (legacy), pusat data internal, layanan public cloud, hingga berbagai aplikasi berbasis Software-as-a-Service (SaaS).
Kompleksitas tersebut membuat keputusan investasi teknologi tidak lagi hanya mempertimbangkan kapasitas komputasi, tetapi juga aspek tata kelola data, kepatuhan regulasi, hingga keamanan siber.
Terlebih setelah berakhirnya masa transisi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), perusahaan di sektor yang memiliki regulasi ketat mulai mempertimbangkan penggunaan sovereign cloud, cloud lokal, maupun arsitektur hybrid cloud untuk memastikan data tetap terlindungi.
Meski demikian, Steve menilai memilih lokasi penyimpanan data saja tidak cukup. "Keputusan mengenai cloud kini menjadi keputusan bisnis karena berkaitan langsung dengan kepercayaan regulator, pelanggan, dan keberlangsungan operasional perusahaan," katanya.
Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan AI, ancaman siber di Indonesia pun terus menunjukkan peningkatan. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 609 juta serangan siber terjadi sepanjang 2024, sementara serangan malware meningkat 12,67 persen.
Bagi perusahaan yang mengelola data pelanggan, sistem pembayaran, maupun rantai pasok digital, gangguan keamanan tidak hanya berpotensi menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga mengganggu operasional dan menurunkan kepercayaan pelanggan.
Survei Gigamon 2026 Hybrid Cloud Security Survey juga menunjukkan kebocoran data di organisasi kawasan Asia Pasifik meningkat 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut mendorong lebih dari 90 persen pemimpin TI dan keamanan di kawasan untuk meningkatkan investasi pada teknologi keamanan guna memperbaiki visibilitas sistem.
