Jakarta, FORTUNE - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan akan mengubah fondasi daya saing ekonomi global. Konsultan manajemen global Kearney menilai Indonesia perlu segera menyesuaikan model pertumbuhan ekonominya agar mampu memanfaatkan peluang yang muncul dari transformasi tersebut.
Dalam laporan bertajuk How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI, Kearney mengidentifikasi delapan realitas baru yang dinilai akan membentuk ulang cara negara menarik investasi, mengembangkan sumber daya manusia, membangun industri, dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.
Laporan tersebut menyebut AI tidak lagi sekadar teknologi pendukung produktivitas, tetapi telah berkembang menjadi kapabilitas ekonomi yang mengubah berbagai asumsi pembangunan yang selama puluhan tahun menjadi acuan banyak negara.
Secara global, AI Generatif diperkirakan mampu memberikan kontribusi ekonomi sebesar US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun setiap tahun. Penerapannya mencakup berbagai bidang, mulai dari layanan pelanggan, pemasaran dan penjualan, pengembangan perangkat lunak, penelitian dan pengembangan, hingga berbagai sektor lainnya. Sejalan dengan itu, investasi global pada infrastruktur AI juga terus meningkat.
Tomoo Sato, Partner at Kearney dan penulis laporan tersebut, mengatakan bahwa AI tidak sekadar memperkenalkan gelombang inovasi teknologi terbaru. AI juga mengubah banyak asumsi yang selama dua dekade terakhir menjadi panduan pembangunan ekonomi.
"Negara yang unggul di era AI bukanlah yang menawarkan biaya terendah atau tenaga kerja terbesar, melainkan yang mampu membangun kapabilitas, infrastruktur, dan ekosistem yang dibutuhkan untuk menciptakan nilai dari AI dalam skala besar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7).
Bagi Indonesia, transformasi AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Selama ini, pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh ketersediaan tenaga kerja dalam jumlah besar serta sektor manufaktur berorientasi ekspor. Namun, otomatisasi dan AI diperkirakan akan mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja di berbagai sektor tersebut.
Sebagai gantinya, Indonesia dinilai perlu memperkuat posisinya pada berbagai bagian rantai nilai AI, seperti layanan digital, operasional berbasis AI, infrastruktur data, hingga manufaktur berteknologi tinggi.
Selain itu, laporan tersebut menilai Indonesia perlu membangun dua fondasi baru, yakni energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya (scalable clean energy) serta pemerataan literasi AI. Kedua aspek tersebut dinilai penting untuk mengubah bonus demografi menjadi sumber inovasi dan daya saing ekonomi jangka panjang.
