Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
B40 Dorong Nilai Tambah Ekonomi Rp90 T, Digitalisasi Sawit Digenjot
Perkebunan kelapa sawit yang berada di kawasan Ibukota Nusantara, Sabtu (28/3/2026). (IDN Times/Sri Wibisono)

Jakarta, FORTUNE - Di tengah upaya memperkuat struktur industri nasional, sektor kelapa sawit kian diposisikan sebagai motor penggerak ekonomi. Selain menopang ekspor, industri ini juga didorong menghasilkan nilai tambah lebih besar melalui hilirisasi dan pemanfaatan teknologi. Riset Statista memproyeksikan, implementasi program biodiesel B40 bahkan diproyeksikan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi hingga Rp90 triliun serta membuka lebih dari 500.000 lapangan kerja baru di sepanjang rantai pasok.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun mempercepat digitalisasi sektor ini guna memperkuat daya saing industri sawit nasional di tengah tuntutan efisiensi dan transparansi global.

Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah pengembangan Sistem Informasi Produk Sawit dan Turunannya (Siprosatu), yang dirancang untuk mengintegrasikan data rantai pasok dari hulu hingga hilir secara real time.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menjelaskan sistem ini memungkinkan pelacakan produk sawit secara menyeluruh, sekaligus memperkuat fungsi pengawasan dan pengambilan kebijakan.

“Siprosatu merupakan backbone dari pelaporan real-time data neraca massa masuk–keluar bahan baku dan produk perusahaan industri sebagai alat bantu pengambilan keputusan pembinaan industri serta pengawasan dan pengendalian oleh regulator,” ujar Putu, dalam keterangan resmi, dikutip Senin (20/4).

Melalui sistem tersebut, pemerintah akan memantau berbagai produk turunan kelapa sawit, mulai dari crude palm oil (CPO) hingga produk refinery, fractionation, dan modification (RFM) seperti minyak goreng, oleofood, dan biodiesel.

Putu menilai, optimalisasi Siprosatu akan mendorong kinerja industri agro yang selama ini menjadi kontributor signifikan bagi ekonomi nasional. Pada triwulan I 2025, industri agro tercatat tumbuh 4,69 persen dengan realisasi investasi mencapai Rp38,72 triliun.

Selain itu, sektor ini juga menyumbang 52,17 persen terhadap PDB industri nonmigas dan menyerap 9,37 juta tenaga kerja. “Hal ini menegaskan bahwa industri agro merupakan salah satu sektor strategis dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” kata Putu.

Sejumlah perusahaan juga mulai mengakselerasi digitalisasi di tingkat operasional. PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN), misalnya, mengintegrasikan teknologi dalam pengelolaan perkebunan dan keberlanjutan melalui aplikasi berbasis web Teladan Greenmetric. Sistem ini memungkinkan pemantauan kinerja secara real time sekaligus memperkuat pengambilan keputusan strategis.

Selain itu, perusahaan mengoptimalkan Teladan Production System (TPS) untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan kebun, baik inti maupun plasma. Langkah tersebut turut menopang kinerja produksi perseroan.

“Peningkatan produksi TBS ini merupakan hasil dari penerapan praktik perkebunan terbaik yang diikuti dengan pemupukan dan pemeliharaan sesuai standar tinggi,” ungkap Mahirudin, dalam Konferensi Pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (16/4).

Seiring digitaliasi teknologi, sepanjang 2025 TLDN mencatat total produksi tandan buah segar (TBS) mencapai 1.271.034 ton atau tumbuh 4,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi TBS inti dan plasma masing-masing meningkat 3,6 persen dan 9 persen menjadi sekitar 1,1 juta ton dan 161.476 ton, dengan tambahan pasokan dari pihak ketiga sebesar 192.405 ton. Di sisi lain, produksi kernel juga meningkat sekitar 2 persen menjadi 333 ribu ton, meski tingkat ekstraksi minyak (OER) turun menjadi 22,8 persen dari sebelumnya 25 persen.

Di sisi lain, pelaku industri turut memperkuat transformasi sektor sawit melalui pemanfaatan teknologi dan kolaborasi lintas rantai nilai. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan pameran teknologi kelapa sawit internasional PALMEX Jakarta 2026 yang akan digelar pada 6–7 Mei 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran. Perhelatan ini menjadi ajang bertemunya pelaku usaha, investor, dan inovator global.

Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong, menekankan pentingnya adopsi teknologi dalam menjaga daya saing industri sawit di tengah perubahan standar global. Menurutnya, PALMEX Jakarta menjadi platform untuk para pelaku bisnis di industri kelapa sawit dapat terhubung, menemukan solusi, dan berkembang bersama.

"Dalam kondisi industri saat ini, pemanfaatan teknologi dan kolaborasi lintas rantai nilai menjadi kunci agar pelaku usaha bisa bertahan di tengah tren global menuju efisiensi, digitalisasi, dan standar keberlanjutan yang makin ketat,” ujar Kenny dalam keterangannya di Jakarta.

Pameran ini diperkirakan menghadirkan lebih dari 300 merek internasional dan menarik lebih dari 7.000 profesional industri dari berbagai negara.

Melalui kombinasi kebijakan pemerintah dan inovasi pelaku industri, sektor kelapa sawit Indonesia diharapkan mampu terus meningkatkan nilai tambah, serta memperluas penciptaan lapangan kerja. Penguatan digitalisasi di tingkat perusahaan ini menjadi cerminan arah transformasi industri sawit. Sejalan dengan itu, pelaku industri juga mendorong kolaborasi lintas ekosistem untuk mempercepat adopsi teknologi secara lebih luas.

Editorial Team